“ditepian kota itu (p)enak”

Showing posts with label Aceh Selatan. Show all posts
Showing posts with label Aceh Selatan. Show all posts

12 June 2018

Tradisi Buka Bersama Warga Lhok Aman Aceh Selatan

Berhubung momennya bulan puasa, postingan blog kali ini adalah tentang tradisi buka bersama warga Lhok Aman, Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan. Ya.. masih tentang sesuatu yang berbau SM3T, karena cerita tetang SM3T saya anggap belum tuntas. 
Momen buka puasa di Gampong saya, Lhok Aman merupakan buka puasa yang istimewa. Mengapa istimewa? karena buka puasanya hanya dilaksanakan sekali saja selama bulan puasa. Kukira sih buka puasa bakalan setiap hari, kayak di kampung halaman, tapi ternyata tidak. Maklum berharap seperti itu, hidup bersama teman lainnya sampai hidup mandiri menyiapkan masakan sendiri sehingga berharap ada buka puasa adalah menghemat pengeluaran hehe. Oiya kalau buka puasa di sana biasanya masak ala kadarnya, tak ada spesial dengan menu setiap hari yang tak jauh dari tempe goreng sambel dan biasanya tumis kangkung. Dekat dengan laut seharusnya mengkonsumsi ikan laut segar, tetapi karena goreng ikan itu menghabiskan banyak minyak goreng jadinya males. Tapi ya berkah puasa itu sering dikirimi lauk dan nasi dari murid dan tetangga, kadang pun diundang buka bersama keluarga murid di rumahnya. Tapi kalau masak ya palingan sekalian masak buat sahur, masak untuk porsi dua orang.
Proses pemotongan hewan kambing
Kembali mengenai tradisi buka bersama tadi, mengapa cuma satu kali? Pada saat itu buka bersama dilaksanakan pada tanggal 27 Juni 2016. Setelah melihat tanggalan di 2016, saya cocokan antara hitungan masehi dan hitungan hijriah, ternyata menurut hitungan tahun hijriah, tanggal 27 juni 2016 adalah tanggal 21 Ramadhan. Kalau di kaitkan dengan tradisi jawa, ada beberapa tempat pada tanggal tersebut (21 Ramadhan) dilaksanakan kenduri atau genduren "selikuran". Maksudnya kenduri yang dilaksanakan pada tanggal 21 Ramadhan.
Mesin pemarut kelapa yang nantinya parutan kelapa untuk membuat santan
Acara buka bersama di Gampong Lhok Aman melibatkan seluruh warga. Persiapan dan masak-masak pun dilaksanakan oleh pemuda, bapak-bapak dan ibu-ibu. Seolah kaya makan besar, menyembelih kambing, ayam dan itik. Jadi pada saat buka bersama nanti warga tinggal membawa nasi dan makanan ringan sebagai camilan. Penyembelihan kambing, ayam dan itik dilakukan oleh para pemuda dan bapak-bapak, sedangkan yang bagian masak adalah kaum ibu-ibu. Semua dilaksanakan diarea masjid. Kalau istilahnya jawa "kabeh guyup rukun dadi siji" ditempat itu.
Para pemuda kebagian memotongi daging kambing dan ayam untuk dimasak menjadi gulai
Setelah mendekati waktu buka bersama, Tengku memberikan ceramah. Oiya Tengku itu adalah sebutan untuk kiayi masjid disitu atau kalau pernah lihat dinama-nama tulisannya Tgk. Tengku beda dengan Teuku, kalau Teuku itu lelaki keturunan kerajaan, kalau yang cewek itu Cut.
Oke kembali ke persiapan buka bersama hehe. Warga yang lainnya membawa nasi dan rantangan lengkap lauk dan kue-kuenya, sedangkan saya hanya membawa satu nasi yang diwadahi ditempat makan berlabel anti pecah dan jika pecah bisa dituker kembali, hehe.. Gulai kambing dan ayam maupun itik tersebut sudah diplastiki perporsi, jadi saat buka bersama tidak antri mengambil dan semua juga kebagian.
Duduk bersama bapak-bapak saat menunggu waktu berbuka puasa
Begitulah tradisi buka puasa bersama di gampong Lhok Aman, Gampong dimana saya tinggal selama setahun di Aceh Selatan, sampai jumpa di artikel selanjutnya..

19 May 2018

Lemang yang Harus Ada Saat Tradisi Meugang

Haloo..prolognya apa ya hehe.., wah sudah lama tidak melanjutkan menulis di blog ini, terlebih sebenernya pengen bercerita yang masih ada kaitannya dengan SM3T di Aceh Selatan. Terakhir saya menulis di blog ini pada Februari 2017 yang lalu tentang asal usul legenda Tapaktuan, nama ibukota kabupaten yang saya tinggali selama 2015-2016. Masih banyak cerita yang ini saya bagikan, tetapi mood untuk konsisten menulis itu tidaklah selalu ada hehe..
Akan tiba saatnya bulan puasa, momen ini saya jadi teringat sebuah tradisi di Aceh. Meugang atau makmeugang merupakan suatu tradisi penyembelihan sapi, kerbau atau kambing masyarakat Aceh ketika mau memasuki bulan puasa, Idul Fitri dan Idul Adha. Kalau di Jawa, meugang sama seperti halnya kenduri atau genduren. Meski ada cara meugang lainnya yang pernah saya tulis sebelumnya, bisa dibaca di artikel meugang dengan maksud tolak bala.
Penyembelihan hewan pada tradisi meugang dilaksanakan ditempat yang mudah diakses semua warganya, contohnya di Masjid. Namun untuk daerah yang saya tinggali, di Gampong Lhokaman, Meukek, Aceh Selatan, tradisi meugang yang mau memasuki bulan puasa tidak dilaksanakan penyembelihan hewan, yang ada hanya tradisi membuat lemang, ziarah ke makam kerabat yang sudah meninggal dunia dan saling membagikan makanan ke sanak saudara. Berkah juga sih, dengan status sebagai pendatang dan tinggal bersama teman-teman yang masih lajang sehingga banyak datang kiriman dari tetangga dan murid-murid. Oiya untuk tradisi meugang sebelum bulan puasa penyembelihan hewan mungkin dibeberapa tempat sudah tidak dilaksanakan, tetapi sekarang sudah banyak yang jualan daging sapi dipasar-pasar ketika tradisi meugang jadi warga tinggal membeli di pasar.
Proses pembuatan lemang
bambu yang berisi ketan dan santan itu dimasak sampai mendidih
Makanan khas yang harus ada saat meugang yaitu lemang, lemang itu terbuat dari beras ketan yang dimasak dengan santan dan dimasukan ke dalam bambu. Hampir bahkan wajib setiap rumah membuat makanan camilan ini. lemang tersebut dimasak sampai mendidih, biasanya sekitar 1-2 jam dengan nyala bara api yang stabil.
Kalau ini lemang ketela
lemang ketan yang telah dibuka
Lemang biasanya disajikan dengan tape ketan merah atau kalau musim durian bisa disajikan dengan buah durian. Jangan heran, karena dekat dengan kebun durian, terkadang sering diberi durian oleh tetangga atau murid, kalau mau beli pun murah, kurang lebih satu durian seharga 5 ribu - 10 ribu saja.
Proses pembuatan lemang seperti video dibawah ini..

1 February 2017

Asal Mula Tapak Tuan Ibukota Aceh Selatan

Tapaktuan, Kecamatan paling sibuk di Kota yang terkenal dengan Buah Palanya yang juga merupakan Ibukota dari Aceh Selatan. Kabupaten Aceh Selatan berbatasan langsung dengan Samudera Hindia sehingga menyebabkan iklim yang cukup panas. Kabupaten Aceh Selatan seperti terjepit karena diapit oleh Pegunungan Bukit Barisan dan Samudra Hindia.
Itulah prolog untuk kembali menceritakan Kota "Seribu Pala". Setahun sempat tinggal di Kota yang kurang lebih berjarak 412 kilometer dari pusat Provinsi Aceh tentunya banyak cerita yang didapat. Pada kesempatan kali ini, saya akan menyajikan coretan tentang asal mula atau legenda dari kota Tapaktuan. Jika berkesempatan ke Aceh Selatan, jangan lupa untuk mengunjungi salah satu objek wisata di Kota Tapaktuan. Obyek wisata tersebut adalah batu karang yang menyerupai bekas tapak kaki dan tempat itulah sampai sekarang diyakini sebagai cerita asal mula kota Tapaktuan.
Baiklah, dengan cerita yang didengar dari buah bibir tetangga semasa di Aceh Selatan dan melengkapi cerita melalui artikel di laman internet darulhasanahaceh.com rampunglah artikel asal usul Kota Tapaktuan di blog saya ini. Mari disimak...
Pada zaman dahulu hiduplah seorang pemuda berbadan tinggi bernama Teuku Tuan. Beliau hidup menyendiri di sebuah lereng gunung, setiap hari beliau selalu berzikir dan tidak pernah lupa menyebutkan nama Allah di dalam gua. Karena kebiasaan bertapa di dalam goa, maka Teuku Tuan itu disebut Tuan Tapa.
Suatu hari datanglah dua ekor Naga dari Negeri Cina yang bertemu dengan Tuan Tapa. Naga terebut adalah Naga Jantan dan Naga Betina. Sepasang Naga tersebut diusir sebuah Negeri Cina karena tidak mempunyai anak. Di Negeri Cina beranggapan bahwa Sepasang Naga yang tidak mempunyai anak adalah pembawa sial dan tidak patut tinggal disana. Bila nanti sepasang Naga telah mempunyai anak, barulah sepasang Naga tersebut diizinkan kembali ke sana. Setelah terjadi kesepatan antara Tuan Tapa dan sepasang Naga tersebut, akhirnya sepasang Naga diijinkan tinggal sementara di suatu tempat gunung di sana.
Jejak yang diyakini sebagai bekas Tapak Tuan Tapa (sudah diperbaiki dengan semen)
Suatu hari ketika sepasang Naga tersebut sedang berjalan-jalan di laut Aceh Selatan dari tengah lautan mereka mendengar suara tangis bayi. Suara tangis itu semakin lama semakin keras dan jelas. Begitu sampai di tengah laut, kedua Naga itu sangat terkejut. Mereka melihat seorang bayi perempuan sedang terapung-apung di dalam sebuah ayunan yang terbuat dari anyaman rotan. Diambilah bayi tersebut dan hendak dibawa ke tempat tinggal sepasang Naga tersebut. Begitu mereka tiba di tempat peristirahatannya, ternyata Tuan Tapa sudah berdiri di depan pintu gua. Tuan Tapa kemudian memberikan pesan kepada sepasang Naga untuk menjaga anak perempuan tersebut dengan sebaik-baiknya.
Seiiring waktu, bayi perempuan itu tumbuh dewasa menjadi seorang gadis, diberilah nama Putri Naga oleh sepasang Naga yang telah merawatnya. Namun Putri Naga tersebut menyimpan pertanyaan besar, “Siapakah orangtua saya sebenarnya?”. Pertanyaan itu tak membuahkan hasil ketika bertanya dengan sepasang Naga, maupun bertanya dengan hewan-hewan lain yang melindunginya. Suatu saat pertanyaan tersebut didapatlah jawaban bahwa suruh menanyakan Tuan Tapa yang sedang bertapa di dalam suatu goa. Alhasil Putri tersebut pergi ke tempat Tuan Tapa. Sesampainya, Tuan Tapa memberi jawaban “Kamu adalah anak seorang  Raja. Ketika kamu masih bayi, kamu hanyut di tengah lautan. Saat kamu terapung-apung di lautan kedua Naga itu datang menyelamatkanmu dan menganggapmu sebagai anaknya. Tidak lama lagi orangtuamu akan datang menjemputmu”. Kemudian sang Putri meninggalkan tempat Tuan Tapa.
Selang beberapa hari kemudian datanglah orangtua asli Putri tersebut. Orangtua Putri kemudian bertemu dengan Tuan Tapa dan meminta izin untuk mengambil kembali anak mereka. Tuan Tapa menyuruh agar meminta izin kepada sepasang Naga, karena kedua Naga itulah yang menyelamatkan dan merawat Putri tersebut sampai dewasa. Orangtua kandung Putri itu pun meminta izin kepada kedua Naga itu, namun sepasang Naga itu menolak. Mengetahui hal itu Tuan Tapa pun ikut campur tangan untuk membantu orangtua asli Putri tersebut.
Jalanan menuju obyek wisata Tapak Tuan Tapa yang berada di bibir lautan
Sepasang Naga pun tetap bersikukuh menolak dan berencana membawa Putri itu bersama mereka menuju ke Negeri Cina. Namun Tuan Tapa tidak membiarkan hal itu terjadi sehingga terjadilah perkelahian. Bukti perkelahian sepasang Naga dan Tuan Tapa di yakini warga sekitar masih bisa dilihat di beberapa tempat. Bekas telapak kaki Tuan Tapa masih bisa kita jumpai di bibir samudra hindia yang kini dijadikan sebagai obyek wisata. Kemudian bekas darah dari tubuh Naga yang hancur dan tumpah ke mana-mana masih dapat dilihat di pantai Desa Batu Hitam dan Batu Merah, sekitar 3 km dari kota Tapaktuan dalam bentuk batu.  Ada lagi tongkat dan topi Tuan Tapa yang sempat tercampak ke laut sampai sekarang diyakini masih terlihat dan telah menjadi batu yang terdapat di kawasan pantai Tapaktuan. Kemudian perkelahian tersebut akibat dari Naga betina yang mengamuk hendak melarikan diri ke Negeri Cina, Naga tersebut membelah sebuah pulau di kawasan Bakongan hingga menjadi dua bagian, pulau itu terkenal bernama Pulau Dua. Bahkan Naga itu mengamuk memporak porandakan sebuah pulau. Pulau itu terpecah-pecah, hingga kini disebut Pulau banyak yang terdapat di Kabupaten Aceh Singkil.
Pekelahian tersebut dimenangkan oleh Tuan Tapa dan Putri pun kembali ke dekapan orangtuanya. Sejak kejadian itu Tuan Tapa jatuh sakit. Dan selang beberapa hari kemudian beliau meninggal dunia. Jasadnya dikuburkan di kota Tapaktuan juga. Dari kejadian itulah ibu kota Aceh Selatan diberi nama Tapaktuan, artinya telapak kaki Tuan Tapa.
Sebuah pesan dari pengelola wisata yang mengingatkan pengunjung
Oya..jika sedang mengunjungi wisata Tapak Tuan Tapa harus melihat kondisi gelombang lautan. Jika gelombang sedang tinggi jangan paksakan untuk mendatangi Tapak tersebut karena tempatnya persis di bibir lautan danlang akses jalan yang dilewati pun merayap di dinding bebatuan karang. Ada satu lagi pesan yang perlu diperhatikan, keyakinan dari warga penduduk setempat, "Jangan terlalu ria, buang jauh-jauh rasa sombong di dalam diri".

9 November 2016

Kudapati "Sesuatu" di SD Alue Keujrun Sara Baru

Sara Baru, salah satu tempat yang berkesan setelah Gampong Lhokaman selama pengabdian di Kabupaten Aceh Selatan. Sara Baru adalah nama sebuah Dusun di Gampong (Desa) Alue Keujrun Kecamatan Kluet Tengah Manggamat Kabupaten Aceh Selatan. Gampong yang tidak terjangkau sinyal seluler, karena memang daerahnya berada jauh dari tower-tower BTS (Base Transmission Station). Meski hanya beberapa jam ditempat itu tanpa signal seluler, namun kenyamanan begitu terasakan.
Groufie bersama teman-teman SM3T dan Murid SD Alue Keujrun Sara Baru
Tepatnya ditanggal 30 Mei 2016, saya bersama teman-teman, yang juga keluarga seperantauan di Kabupaten Aceh Selatan, tergabung dalam SM3T Universitas Negeri Malang Angkatan V mengadakan program kegiatan "Berbagi Donasi" untuk murid-murid yang berada di SD Alue Keujrun. Sekolah yang hanya satu-satunya berada di Sara Baru, sehingga jika anak-anak sudah lulus SD mereka harus merantau dari Sara Baru untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Sekolah yang letaknya kurang lebih ditempuh dua jam dengan menyusuri sungai ke arah hulu dengan menggunakan stempel (sebutan perahu bagi warga sekitar). Stempel adalah satu-satunya alat transportasi  yang dapat digunakan untuk menuju ke Sara Baru. Transportasi air tersebut maksimal hanya bisa diisi dengan 9 orang penumpang, itupun sudah termasuk dengan pengemudinya. Pengalaman yang tak terlupakan bisa sampai ke tempat itu dengan menggunakan stempel yang sewaktu-waktu bisa terbalik jika penumpang banyak gerak atau pengemudinya salah memilih jalur aliran air yang mengalir.
Perjalanan menggunakan stempel menyusuri sungai Lawe Melang
Sang istri selalu setia menemani Pak Ali Hanafiah 
Berangkat pagi membersamai Pak Ali Hanafiah yang juga sebagai Kepala Sekolah SD Alue Keujrun bersama sang istri menjalani aktivitasnya menyusuri sungai Lawe Melang. Bagi warga sekitar Lawe Melang memiliki arti Air Besar karena rata-rata memiliki lebar sungai 15-20 meter. Kurang lebih 2 jam diatas stempel kami telah sampai di dermaga Sara Baru, meskipun tak nampak dermaga pada umumnya.
Dermaga yang tak nampak dermaga seperti pada umumnya
Dengan beberapa barang donasi yang dibawa dari kota, kami mulai melangkah meninggalkan dermaga. Tak terlalu jauh dari dermaga kami sampai di lokasi sekolah SD Alue Keujrun. Dua bangunan berdiri berdampingan kontras terlihat, disebelah kanan bangunan berdinding kayu dan berlaskan tanah, sedangkan disebelah kiri bangunan berdinding semen kokoh berdiri. Kalau dilihat dari bangunannya, dulunya di SD tersebut hanya terdapat 3 lokal (ruang kelas), bangunan kokoh disampingnya itu baru berdiri beberapa tahun terakhir.
Halaman depan ruang kelas yang berdebu tak menyurutkan siang itu
Kami mulai bermain dibawah bendera yang sama "Indonesia"
Bernyanyi dengan khidmat "Indonesia Raya" diawal kegiatan, mempertebal rasa nasionalisme pada jiwa anak-anak terlebih pada diri kami sendiri. Dibawah teriknya panas matahari tak menyurutkan semangat anak-anak Sara Baru untuk mengikuti kegiatan. Kami bermain, berbagi cerita dan motivasi kepada anak-anak penuh semangat itu. Tak banyak jumlah mereka, dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 mungkin tak genap 40 orang. Didalam ruangan kami lebih banyak mengajak anak-anak Sara Baru berkomunikasi. Bertukar cerita dan mengedukasi bagaimana menjaga kelestarian hidup di sekelilingnya. Juga mencari tau seperti apa ikan kerling yang konon katanya ikan air tawar yang paling mahal dan enak yang hanya dapat ditemui di sekitar sungai Menggamat.
Dan kami mulai bermain bersama
Pak Ali Hanafiah yang tak sungkan ikut serta muridnya bermain "ular naga"
Pak Ali yang telah mengabdi di Sara Baru kurang lebih 18 tahun tak segan mengikuti kegiatan kami. Seolah kami ditunjukkan oleh beliau bahwa pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama, bukan kaum tua saja ataupun kaum muda saja. Rumah Pak Ali sebenarnya berada di Menggamat, bukanlah Sara Baru. Bersama sang Istri Pak Ali melakukan aktivitasnya menyusuri sungai Lawe Melang untuk datang kesekolah.
Inilah sosok Pak Ali Hanafiah
Jarak dan resiko yang besar, Pak Ali bersama istri dan beberapa guru lainnya memilih tinggal di rumah dinas yang terletak di sanping sekolah. Kadang seminggu berada di Sara Baru kemudian turun (istilah pulang kerumah) atau tergantung ketika ada urusan mendadak. Pak Ali dibantu oleh 8 orang Guru dan juga karyawan setiap harinya untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari di SD tersebut.
Kegiatan di dalam ruangan
Kegiatan pun usai, kami melangkah meninggalkan SD dan menuju ke dermaga. Anak-anak Sara Baru pun mengikuti kami ke dermaga. Mereka menghantarkan kami pulang di dermaga sembari bermain air, layaknya di taman bermain. Ya karena tempat itulah mereka biasanya bermain dan mencari ikan.
Bagi mereka inilah kolam renang tempat taman bermain yang paling mewah
Inilah video perjalanan kami dan kegiatan kami selama berada di SD Alue Keujrun, Sara Baru, Menggamat, Kabupaten Aceh Selatan.

Beberapa bulan setelah acara itu, di bulan Agustus kami sempat bertemu Pak Ali Hanifiah lagi, tepatnya di acara perpisahan guru SM-3T dan juga penerimaa Gurdacil (Guru Daerah Terpencil) Kabupaten Aceh Selatan. Kebetulan SD Alue Keujrun mendapatkan beberapa Guru bantu dan menurut info sejak saat itu telah dibuka SMP satu atap di Alue Keujrun Sara Baru. Info yang menyegarkan bagi kami karena anak-anak di Sara Baru tak perlu turun untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi setelah lulus dari SD.

27 May 2016

Membalas Menghadiri Kenduri Maulid Nabi

Aceh, daerah yang terkenal syariat islamnya, kental dengan budaya agamanya. Kebudayaan dan agama ibarat koin logam yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain. Kenduri, begitulah tradisi warga aceh untuk menunjukkan rasa kebersyukuran terhadap yang Maha Pencipta. “Orang Aceh itu dikit-dikit kenduri, dan kenduri di Aceh pun banyak, keadaan ekonomi masyarakatnya pun juga tidaklah baik, tapi warga sini selalu menyisihkan uangnya untuk kenduri”. Begitulah kalimat yang pernah saya dengar dari seorang warga Aceh, yang kebetulan tetangga dimana saat ini saya tinggal, yaitu di Gampong (Gampong=Desa) Lhok Aman, Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan.
Barisan melingkar pada saat dzikir maulid
Memang benar kenduri di Aceh itu banyak, sebagai contoh adalah kenduri Kejirat (kenduri makam leluhur), mak megang (rabu pungkasan dalam adat jawa), kenduri padi, kenduri laut, kenduri Maulid Nabi dan lain-lain. Hal paling menarik untuk disampaikan adalah kenduri Maulid Nabi. Kenduri yang mungkin dilaksanakan silih berganti dalam waktu kurang lebih 3 bulan. Kenduri Maulid ini dilaksanakan setiap Desa dengan mengundang Desa tetangga yang lain. Setiap Desa akan saling berbalas mengundang Desa yang telah mengundangnya. Contohnya adalah seperti ini, semisal Desa kami mengundang Desa A, B dan C, dan sewaktu Desa A melaksanakan kenduri, maka Desa A tersebut akan mengundang Desa kami, Desa B dan C, begitu juga Desa B dan C sewaktu melaksanakan kenduri Maulid di tempatnya masing-masing.
Truk yang terjebak di bebatuan aliran sungai
Siang itu adalah kesempatan kami membalas undangan kenduri maulid di Desa Bukit Meh. Desa yang letaknya di bawah pegunungan. Nampaknya jalan yang kami lewati tidaklah mudah, hanya ada jembatan gantung yang sudah mulai reot, itupun hanya bisa dilewati untuk pejalan kaki dan sepeda motor. Sedangkan kami beserta rombongan berangkat dari desa kami menggunakan truk terbuka. Menyusuri sungai merupakan jalan satu-satunya supaya dapat sampai ke tempat lokasi. Nampaknya kami menemui masalah, ban truk terus memutar tanpa ada pergerakan ketika menyusuri sungai tersebut. Akhirnya kami turun truk dengan melipat celana sampai ke lutut. Mendorongpun juga tak ada hasil, akhirnya kami bergegas menyusuri sungai dan meninggalkan truk tersebut berjalan kaki sembari menenteng sandal ditangan.
Menyusuri sungai, bergegas untuk ke lokasi
Sesampainya di tempat lokasi, badan kami sudah berkeringat dengan celana yang basah. Kami pun mulai berjajar membuat lingkaran. Para tokoh pemuda desa kami mulai mengarahkan anak-anak supaya dengan segera membentuk lingkaran dengan rapi. Terlihat di barisan, generasi anak-anak dari umur SD, SMP, SMA dan para pemuda aceh bersemangat untuk melesatrikan budaya dan tradisi ini.

Beberapa shalawat kami bawakan pada hari itu, kurang lebih 2 jam kami berdzikir shalawat nabi. Menyelami kebudayaan dan tradisi aceh, duduk bersama mereka generasi penerus kebudayaan dalail khairat adalah merupakan pengalaman yang tak akan terlupakan.

Sebaris bersama mereka, cikal bakal pewaris kebudayaan
Setelah selesai, sebelum pulang kami akan diberikan “kena” kalau dalam istilah jawa adalah berkat. Kena adalah baskom plastik yang berisi nasi, kawan nasi/lauk-pauk lengkap dengan buah dan berbagai kue dan minuman. Setiap yang ikut dzikir maulid tadi akan mendapat 2-3 kena tergantung dari banyaknya jumlah kena kenduri yang tersedia. Kena merupakan kenduri dari warga desa. Setiap rumah biasanya disuruh membuat 10-20 buah kena lengkap dengan isinya, atau banyaknya tergantung kesepakatan oleh warga desa.
Kami mendapatkan bagian kena masing masing
Melewati jembatan tua satu-satunya, truk pun hanya bisa sampai diseberang sungai 
Tiga buah kena, tak kuasa tangan membawanya
Satu persatu saling bantu menaiki bak truk
Bisa dibayangkan berapa banyak uang yang disisihkan untuk kenduri maulid saja?itu hanya untuk satu kenduri maulid saja, misal kenduri yang lainnya?. Tapi warga tak pernah berkeluh kesah, karena tradisi seperti itu adalah bentuk kebersyukuran dengan yang Maha Pemberi Rezeki. Inilah Aceh, dengan tradisi dan budaya keislamannya. Setiap daerah pasti memiliki kebudayaan dan tradisinya dan semua itu memiliki ciri khas tersendiri, keberagaman membuat indah dengan saling mewarnai.



8 January 2016

"Berkereta" Sejauh 412 Kilometer Menuju Ibukota Provinsi


Kurang lebih Empat ratus dua belas kilometer perjalanan touring dari kabupaten menuju ibukota provinsi itu telah terlewati. Liburan sekolah akhir tahun dan juga mumpung lagi di aceh selatan ingin mengunjungi ke beberapa tempat di ibukota provinsi. Ya, Banda aceh, ibukota provinsi yang terletak paling ujung di negeri ini. Tujuannya bukan hanya banda aceh, tapi sekaligus menyinggahi kota sabang. 
tak lupa selfie 
27 desember 2015, sekitar pukul 11 siang dengan mengendarai “kereta” (sebutan sepeda motor warga aceh) bersama teman seperjuangan sebut saja jihan (bukan nama samaran) perjalanan panjang itu dimulai. Sempat bertanya ke warga tetangga, jarak tempuh kabupaten aceh selatan dengan banda aceh itu berapa jam. Jawabannya pun beragam, ada yang menjawab 6 jam sampai 10 jam, yaa rata-rata 8 jam lah kira-kira. Bukan jarak yang dekat mengingat rute yang akan ditempuh adalah perjalanan dari kabupaten ke ibukota provinsi. Kalau dijawa, jarak 412 km itu sudah lintas provinsi. 
jalanan menuju ibukota, menyusuri pinggir lautan
Ini adalah touring perdana di aceh yang bakal menjadi pengalaman perjalanan yang panjang. Di mulai dari Aceh selatan kemudian masuk daerah Abdya (Aceh barat daya) – Nagan Raya – Meulaboh – Aceh Jaya – Aceh Besar - Lhok Nga kemudian baru sampai di pusat kota Banda Aceh. Selama menempuh 412 KM itu rute yang dilewati pun bisa dibilang asik. Melewati pinggiran tepi pantai dan pegunungan, melewati hutan sawit. Seperti pemandangan di Gunung Geurutee. Kami sempat singgah ke warung didaerah puncak gunung Geurutee, sembari ngeteh manis menikmati sunset.
singgah di Puncak Geurutee sembari ngeteh manis
Sempat melihat postingan di IG akun Aceh, bahwa pulau yang terlihat dari Puncak Gunung Geurutee dulunya sebelum bencana tsunami, pulau tersebut menyambung menjadi satu, tetapi setelah tsunami pulau itu terpisah, dan diberi nama pulau Tsunami. Puncak Gunung Geurutee ini berlokasi di Aceh Jaya kilometer 66. Seselesainya ngeteh manis, setelah menuruni Puncak Gunung Geurutee, kami berhenti sejenak, karena hujan yang lumayan lebat. Kurang lebih pukul 9 malam kami sampai di banda aceh. Kalau ditotal berarti perjalanan kami menghabiskan waktu 10 jam dengan waktu istirahat makan dan singgah karena hujan. Setelah sampai di banda, kami harus muter-muter mencari tempat penginapan yang terjangkau. Akhirnya dapat di Wisma Dermaga yang terletak di  sekitar terminal labi-labi dekat pasar aceh. Pengalaman berkendara pertama ditanah rantau dengan jarak tempuh yang lumayan jauh.

10 December 2015

Tradisi "Makmegang", Tradisi Tolak Bala Warga Aceh Selatan


Setiap daerah mempunyai tradisi dan budayanya sendiri. Tak terkecuali dengan kota Aceh Selatan. Banyak hal baru yang saya temui ditempat ini, terlebih masalah budaya dan adat istiadatnya. Ada yang mirip ritualnya tetapi beda namanya, bahkan ada yang berbeda sama sekali. Sebagai contoh prosesi penyembelihan hewan kurban yang telah saya posting sebelumnya.
Para Teungku, tokoh agama dan pemangku adat sedang berdoa di makam sesepuh desa
Hari kemarin, Rabu 9 Desember, kalau kota lainnya sedang sibuk dengan Pilkada serentak, di aceh selatan justru serasa hari keluarga. Aceh salah satu daerah khusus keistimewaan sehingga tak melaksanakan Pilkada. Kegiatan ini bukan piknik, melainkan tradisi "makmegang", sebuah tradisi tolak bala warga aceh. Tradisi ini jatuh pada hari rabu terakhir dibulan sapar. Kalau dijawa disebut "rabu pungkasan". Teungku (Kyai) memimpin doa yang dilaksanakan di pinggir pantai karena kebetulan makam "sesepuh warga Lhok Aman Kecamatan Meukek berada di pinggir pantai.
Sebagian anak anak asik bermain di pantai pada saat makmegang
Acara doa pada tradisi ini adalah dilakukan oleh teungku, tokoh agama dan pemangku adat setempat, ada juga sebagian warga yang mengikuti acara doa. Sehingga, Warga desa Lhok Aman silih berganti datang ke pinggir pasie (pantai) Lhok Aman karena tidak terikat harus wajib mengikuti prosesi ritual doa.
Warga Desa Lhok Aman berkumpul bersama keluarga

7 December 2015

Selamat Hari Guru !


Oktober, bulan ke 3 berada di pulau seberang, pulau yang tidak sempat terbayangkan sebelumnnya bisa merasakan kehidupan di kota ini. Daerah yang terkenal dengan legenda tapak tuan sebagai ibukota kabupatennya. Aceh selatan, kota yang kurang lebih 8 jam dari pusat ibukota Banda Aceh. Memberikan apa yang dipunya untuk berbagi dengan anak-anak di ujung negeri adalah salah satu motivasi berhijrah dan mengikuti program SM3T. SMK Negeri 1 Meukek, sekolah yang umurnya belum genap kepala dua adalah tempat tugas saya dikota ini. Sekolah yang berdiri sejak tahun 2008 dengan jumlah murid kurang lebih 150 orang.
Ada satu hari peringatan di bulan oktober yang istimewa dalam dunia pendidikan. Hari ulang tahun PGRI dan Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 Oktober setiap tahunnya. Tahun ini merupakan kali pertama merasakan hari guru sebagai guru. Pada kesempatan ini, bekerja sama dengan guru pendamping osis, membuat sebuah seremonial peringatan di hari guru, yang ditahun-tahun sebelumnya belum dilaksanakan. Anggota Osis diberdayakan sebagai pelaksana kegiatan, dengan tujuan mengajarkan siswa, mempersiapkan dan melatih tanggungjawab dengan bekerja sama antara satu murid dengan murid lainnya.
Upacara di halaman sekolah
Setelah persiapan beberapa hari, pagi itu nampak ada yang berbeda di tanggal 25 Oktober dibanding tahun-tahun sebelummnya. Upacara bendera dilanjutkan dengan peringatan hari guru. Paduan suara dengan arahan teman guru seperjuangan Pak Jihan membawakan Hymne guru dan lagu guruku tersayang membuat suasana berbeda di antara kicauan burung yang bermain di atap gedung sekolah. Peringatan ini juga ada pengumuman guru favorit pilihan siswa yang telah dilakukan polling pemilihan di hari-hari sebelummnya.
Penyerahan bingkisan kepada guru favorit
Bersabungan, berjabat tangan
Bersalaman kepada guru-guru sembari membagikan bunga
Dia akhir acara, ada penyerahan kue dari perwakilan osis untuk guru-guru yang diterima kepala sekolah. Sebagai penutup acara, murid-murid berjabat tangan dan memberikan simbolis bunga kertas kepada seluruh jajaran guru SMK Negeri 1 Meukek.
Berfoto bersama Kepala Sekolah, dan siswa SMK N 1 Meukek
"Selamat hari guru para pahlawan, pahlawan tanpa tanda jasa dan bintang kehormatan. Semoga tetap mendidik dan mengispirasi murid murid di indonesia". 

29 September 2015

Hewan Kurban yang di Makeup

Lantunan takbir dari toa-toa masjid itu terasa berbeda. Walau terdengar sama seperti takbiran idul adha pada umumnya, namun ada rasa yang berbeda. Ya karena suara lantunan takbir idul adha 1436 H itu tidak terdengar dari toa masjid kampung halaman seperti sebelum-sebelumnya.
Masjid Lhokaman
Rentetan kegiatan Perayaan hari raya idul adha yang saya temui selama ini hanya penyembelihan hewan kurban setelah sholat ied saja. Ditempat tinggal baru ini, di Dusun Padang, Desa Lhokaman Kecamatan Meukek, saya menemukan ada tradisi yang berbeda. Berkunjung ke sanak saudara dan tetangga dihari raya idul adha dihari pertama adalah hal yang biasa, layaknya ketika perayaan idul fitri.
Setelah sholat ied, warga mengunjungi rumah satu sama lain. Hari sebelumnya, ibuk-ibuk sibuk mempersiapkan masakan khas ala aceh. Lemang, ketupat ketan beserta tape ketan merah,  dan lontong acehnya pun diusahakan ada dimeja makan. Kak Erna, contoh salah satu tetangga yang membuat lemang. Di belakang rumah, walau hujan gerimis tetap ulet membuat lemang. Bambu-bambu itu disusun berjajar rapi di samping nyala bara api. Ya memang bukan diatas api, melainkan hanya disamping api dengan tujuan terkena asapnya api saja supaya bambu tidak cepat terbakar.
Proses pembuatan lemang dibelakang rumah
Tak selamanya tape berpasangan dengan emping, Tape ketan merah dan ketupat ketan 
Tradisi yang unik saya temui adalah proses penyembelihan hewan kurban. Setelah hari pertama digunakan untuk silaturohmi, hari kedua proses penyembelihan hewan kurban itu dilaksanakan. Bagi mereka yang berkurban, datang dengan membawa satu sampai dua nampan berisi makanan dan perlengkapan perawatan tubuh. Makanan dan perlengkapan perawatan itu diperuntukan bagi hewan yang akan dikurbankan. Roti, nasi ketan, pisang, kemudian ada parfum, handbody, bedak, kaca rias dan lain-lain. Setelah ijab serah terima dari yang berkurban diserahkan kepada panitia, hewan kurban kemudian diterima tengku imam masjid atau sesepuh agama sekaligus juga sebagai imam masjid. Tengku imam yang kebetulan nama tengku di Desa Lhok Aman adalah Pak Imam, membacakan doa, kemudian memberi makanan dan memberi bedak, parfum, dengan memotong sedikit rambut hewan kurban, sambil memperlihatkan wajah hewan kurban ke kaca rias. Setelah selesai proses tersebut, kemudian baru digiring menuju ke tempat penyembelihan. Membentangkan kain putih dan payung menutupi badan hewan kurban.
Hewan kurban yang sedang di dandani oleh ketua lorong (Kepala Dusun) dan Tengku Imam
Prosesi penyembelihan dengan kain putih dan payung sebagai penutup hewan kurban
Timbul pertanyaan, apa maksud dari tradisi yang dilakukan. Saya bertanya kepada seorang warga yang kebetulan juga tokoh pemuda Dusun setempat. Maksud dari tradisi ini adalah sama seperti proses penguburan manusia. Sebelum dikubur, manusia dimandikan, diberi wangi-wangian. Pembentangan kain putih dan payungpun juga seperti itu maksudnya, sama seperti proses penguburan jenazah manusia ke liang lahat yang terakhir.
Bakar kepala hewan kurban cara tradisional
Kepala hewan yang telah dibakar, siap untuk dikuliti
Setelah proses penyembelihan dan distribusi hewan kurban selesai dilakukan, kemudian tradisi masak kepala hewan kurban. Kepala hewan kurban itu dibawa ke rumah Tuhapeut (tetua/ketua orang tua) untuk dimasak. Gotong royong bersama pemuda memasak kepala hewan kurban. Setelah siap disajikan, masakan tersebut dinikmati bersama tokoh kampung setempat. Semua bekerja sesuai dengan porsinya, ada yang memetik pohon kelapa, mencari kayu, memasak nasi dan membuat kopi. Tradisi masak kepala hewan kurban ini dilakukan semuanya oleh kaum pria.
Semua ada porsi kerjanya masing-masing, bagian "perwajanan"
Siap dihidangkan, sama rata sama rasa
Inilah Indonesia, indah dengan beragam tradisi dan budanyanya, kental dengan rasa gotong royong bersama. Berkunjung ke daerah baru, selamilah juga budayanya tidak hanya keindahan alamnya. Setiap daerah pasti punya cara, adat istiadat tersendiri, dan semua itu tidak bisa disamakan. Seperti pepatah jawa bilang "desa mawa cara, negara mawa tata", maka hargailah perbedaan.

Copyright © #ndesolicious | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com