“ditepian kota itu (p)enak”

Showing posts with label SM3T. Show all posts
Showing posts with label SM3T. Show all posts

25 May 2018

Mendadak ke Takengon

Mendadak ke Takengon ini merupakan artikel petualangan awal puasa tahun 2016, perjalanan meugang ke Takengon, Aceh Tengah. 
Oiya bagi yang belum tau apa itu meugang bisa kunjungi artikel sebelumnya..
Takengon merupakan dataran tingginya Aceh dengan Aceh Gayo (Gayo Lues) dan terkenal dengan daerah penghasil kopi nomor wahidnya dari Aceh. Meskipun berada didataran tinggi, tetapi di Takengon terdapat danau yang sering disebut danau Lut Tawar, tempat itulah yang akan dikunjungi bersama dengan teman-teman. Jaraknya sekitar 280 kilometer via Nagan Raya melewati Beutong Ateuh yang ditempuh hampir 12 jam. Kami berangkat bersepuluh, sama-sama tidak tahu rute yang akan dilewati. Tahunya cuma denger dari teman guru yang berasal dari Takengon bahwa nanti kalau sudah melewati daerah Nagan Raya akan melewati pegunungan yang panjang tanpa ada pemukiman penduduk dan tanpa ada yang jualan minyak (read: bahan bakar minyak). Saat itu berangkat dari Aceh Selatan sekitar pukul 10 siang, dan sampai di Nagan Raya sekitar pukul 2 siang, dan kami untuk istirahat sholat. Kalau tidak salah kami sampai di Takengon itu sudah pukul 10 malam.
Rutenya mbelah pegunungan di provinsi Aceh
Kondisi jalan berbatu bekas longsoran (Sumber: Foto FB Ninda)
Benar saja, kami melewati jalan pegunungan yang panjang setelah dari Nagan Raya, ada beberapa yang longsor juga. Rute yang kami lewati merupakan jalur alternatif "mbelah gunung" Aceh bagian selatan tenggara dengan Aceh bagian tengah utara, namun hanya beberapa yang lewat, konon rute yang kami lewati tersebut "rawan". Entah berita asli atau tidak, sehari setelah kami sampai di Takengon ketika kami ke pasar untuk mencari kopi sebagai oleh oleh, terdengar kabar bahwa telah terjadi penjambretan sekaligus pembunuhan di daerah pegunungan yang kami lewati. Kabar tersebut yang membuat kami mengurungkan niat untuk melewati rute tersebut saat akan kembali pulang nantinya. Akibatnya kami merubah rute dari Takengon menuju Bireun, Pidie Jaya, Meulaboh, rute yang lebih panjang dibandingkan jika melewati rute melewati Beutong Ateuh.
Mungkin ini salah satu perjalan dengan manajemen buruk dari penentuan tempat yang akan dikunjungi dan pengelolaan waktu. Ya karena memang belum matang juga persiapannya, sebenernya pengen ke Nias melihat lompat batu kayak di uang seribuan, tetapi karena badai, semua perjalanan laut menuju ke pulau nias menjadi tak tentu.
Landscape danau Lut Air Tawar Takengon
Ketika telah berada di Takengon, pagi harinya kami menuju ke danau Lut Tawar, sampai setengah hari disana, baru mau pindah lokasi ke spot lainnya,.. lah dalah turun hujan, akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi perjalanan di Takengon dan kembali ke penginapan.
Bersepuluh menuju Takengon
Lengkap, selamat datang di danau Lut Air Tawar Takengon
Dihari berikutnya, kami melanjutkan ke pasar untuk mencari kopi, dan siangnya kami harus meninggalkan Takengon untuk kembali pulang karena sekolah telah menanti hehe.
Salah satu gerosir warung kopi di pasar Takengon
Motor sebagus inipun dijadikan becak motor
Menemukan toko cat yang juga menjual kaset pita, aneh ya hehe
Koleksi kaset pita yang masih bersegel baru dengan harga yang masih sama dengan labelnya
Oiya pada waktu sampai takengon sehari sebelum masuk bulan puasa, maka malamnya kami melaksanakan tarawih di Masjid Raya Takengon.
Ngisi buku agenda ramadhan, Bapak-bapak itu Bupati Takengon lho
Dibarengi hujan, siang harinya kami bergegas menuju pidie jaya, kebetulan ada teman sesama SM3T yang bertugas di Pidie Jaya. Ketika dalam perjanalan pun sempat terjadi problem pada motor yang saya naiki. Karena kunci motor dengan rumah kuncinya sudah longgar, ketika melewati jalanan rusak kuncinya jatuh. Dan itu baru sadar setelah kurang lebih jaraknya 10 kilo. Tak mungkin untuk putar balik hanya demi mencari kunci motor yang jatuh. Mencari solusi, membobol kabel di rumah kunci dan membobol rumah kunci di jok untuk mengisi bensin, lagi-lagi apes hehe.. Sesampainya di Pidie Jaya saat itu sudah memasuki adzan maghrib, pas buka puasa. Akhirnya kami bermalam di Pidie Jaya dan keesokan harinya melanjutkan perjalanan menuju ke Meulaboh.
Di kick starter pun nggak nyala, lah bensin habis (Sumber: Foto FB Ninda)
Keapesan berikutnya adalah ketika dalam perjalanan dari Pidie Jaya menuju Meulaboh. Perjalanan yang panjang dan tidak mengetahui rute, saat sampai di jalan tengah hutan, satu persatu motor kehabisan bensin, solusi awalnya kami menyedot dan memindahkan bensin ke motor lainnya. Pikir kami ditengah hutan tidak akan lama, tetapi nyatanya kami menghabiskan waktu kurang lebih 4-5 jam berkutat melewati hutan untuk sampai ke Meulaboh.
Motor matic yang mengharuskan menyedot langsung  dari tank (Sumber: Foto FB Ninda)
Saat tragedi kehabisan bensin itu sekitar jam 4.30 sore, akhirnya kami mengambil keputusan 4 motor disedot habis bensinnya untuk dimasukan ke 1 motor yang akan turun untuk mencari bensin. Saat itu Eko dan Alfian lah yang turun untuk mencari bekal bensin. Sisanya kami memilih duduk di pinggiran jalan sembari membuat tulisan "tolong kami kehabisan minyak", tetapi apes juga tidak ada yang membantu, hanya beberapa mobil yang lewat kala itu. Bisa dibayangkan jika kami tidak mendapatkan minyak, kami akan bermalam di hutan yang tidak tau gimana keadaannya karena baru jam 4.30 saja suasana sudah mencekam dengan suara-suara aneh.
Sembari menunggu datang bensin, bermain kartu adalah bukan salah satu solusi
Keapesan telah terlewati, kami sampai di Meulaboh sekitar jam 7 malam, kami rehat untuk buka puasa dan sholat terlebih dahulu sembari memutuskan untuk apakah terus atau harus cari penginapan lagi. Kami yang cowok-cowok sebenernya berani pulang langsung tanpa bermalam di penginapan Meulaboh, tetapi dari pihak cewek memilih menginap. Maklum jarak Meulaboh ke Aceh Selatan masih sekitar 3-4 jam. Setelah keputusan itu, kami seolah sedang dalam perang dingin kubu cewek dan cowok. Setelah malam itu mendapatkan penginapan kami segera beristirahat dan kembali pulang di pagi harinya.
Ya begitulah touring yang bisa dikatakan gagal karena manajeman yang kurang pas dan dadakan, beda ketika saya touring berdua ke Banda Aceh dan Sabang kala itu.
Terimakasih yang sudah sempat berkunjung dan telah membaca hehe..

19 May 2018

Lemang yang Harus Ada Saat Tradisi Meugang

Haloo..prolognya apa ya hehe.., wah sudah lama tidak melanjutkan menulis di blog ini, terlebih sebenernya pengen bercerita yang masih ada kaitannya dengan SM3T di Aceh Selatan. Terakhir saya menulis di blog ini pada Februari 2017 yang lalu tentang asal usul legenda Tapaktuan, nama ibukota kabupaten yang saya tinggali selama 2015-2016. Masih banyak cerita yang ini saya bagikan, tetapi mood untuk konsisten menulis itu tidaklah selalu ada hehe..
Akan tiba saatnya bulan puasa, momen ini saya jadi teringat sebuah tradisi di Aceh. Meugang atau makmeugang merupakan suatu tradisi penyembelihan sapi, kerbau atau kambing masyarakat Aceh ketika mau memasuki bulan puasa, Idul Fitri dan Idul Adha. Kalau di Jawa, meugang sama seperti halnya kenduri atau genduren. Meski ada cara meugang lainnya yang pernah saya tulis sebelumnya, bisa dibaca di artikel meugang dengan maksud tolak bala.
Penyembelihan hewan pada tradisi meugang dilaksanakan ditempat yang mudah diakses semua warganya, contohnya di Masjid. Namun untuk daerah yang saya tinggali, di Gampong Lhokaman, Meukek, Aceh Selatan, tradisi meugang yang mau memasuki bulan puasa tidak dilaksanakan penyembelihan hewan, yang ada hanya tradisi membuat lemang, ziarah ke makam kerabat yang sudah meninggal dunia dan saling membagikan makanan ke sanak saudara. Berkah juga sih, dengan status sebagai pendatang dan tinggal bersama teman-teman yang masih lajang sehingga banyak datang kiriman dari tetangga dan murid-murid. Oiya untuk tradisi meugang sebelum bulan puasa penyembelihan hewan mungkin dibeberapa tempat sudah tidak dilaksanakan, tetapi sekarang sudah banyak yang jualan daging sapi dipasar-pasar ketika tradisi meugang jadi warga tinggal membeli di pasar.
Proses pembuatan lemang
bambu yang berisi ketan dan santan itu dimasak sampai mendidih
Makanan khas yang harus ada saat meugang yaitu lemang, lemang itu terbuat dari beras ketan yang dimasak dengan santan dan dimasukan ke dalam bambu. Hampir bahkan wajib setiap rumah membuat makanan camilan ini. lemang tersebut dimasak sampai mendidih, biasanya sekitar 1-2 jam dengan nyala bara api yang stabil.
Kalau ini lemang ketela
lemang ketan yang telah dibuka
Lemang biasanya disajikan dengan tape ketan merah atau kalau musim durian bisa disajikan dengan buah durian. Jangan heran, karena dekat dengan kebun durian, terkadang sering diberi durian oleh tetangga atau murid, kalau mau beli pun murah, kurang lebih satu durian seharga 5 ribu - 10 ribu saja.
Proses pembuatan lemang seperti video dibawah ini..

9 November 2016

Kudapati "Sesuatu" di SD Alue Keujrun Sara Baru

Sara Baru, salah satu tempat yang berkesan setelah Gampong Lhokaman selama pengabdian di Kabupaten Aceh Selatan. Sara Baru adalah nama sebuah Dusun di Gampong (Desa) Alue Keujrun Kecamatan Kluet Tengah Manggamat Kabupaten Aceh Selatan. Gampong yang tidak terjangkau sinyal seluler, karena memang daerahnya berada jauh dari tower-tower BTS (Base Transmission Station). Meski hanya beberapa jam ditempat itu tanpa signal seluler, namun kenyamanan begitu terasakan.
Groufie bersama teman-teman SM3T dan Murid SD Alue Keujrun Sara Baru
Tepatnya ditanggal 30 Mei 2016, saya bersama teman-teman, yang juga keluarga seperantauan di Kabupaten Aceh Selatan, tergabung dalam SM3T Universitas Negeri Malang Angkatan V mengadakan program kegiatan "Berbagi Donasi" untuk murid-murid yang berada di SD Alue Keujrun. Sekolah yang hanya satu-satunya berada di Sara Baru, sehingga jika anak-anak sudah lulus SD mereka harus merantau dari Sara Baru untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Sekolah yang letaknya kurang lebih ditempuh dua jam dengan menyusuri sungai ke arah hulu dengan menggunakan stempel (sebutan perahu bagi warga sekitar). Stempel adalah satu-satunya alat transportasi  yang dapat digunakan untuk menuju ke Sara Baru. Transportasi air tersebut maksimal hanya bisa diisi dengan 9 orang penumpang, itupun sudah termasuk dengan pengemudinya. Pengalaman yang tak terlupakan bisa sampai ke tempat itu dengan menggunakan stempel yang sewaktu-waktu bisa terbalik jika penumpang banyak gerak atau pengemudinya salah memilih jalur aliran air yang mengalir.
Perjalanan menggunakan stempel menyusuri sungai Lawe Melang
Sang istri selalu setia menemani Pak Ali Hanafiah 
Berangkat pagi membersamai Pak Ali Hanafiah yang juga sebagai Kepala Sekolah SD Alue Keujrun bersama sang istri menjalani aktivitasnya menyusuri sungai Lawe Melang. Bagi warga sekitar Lawe Melang memiliki arti Air Besar karena rata-rata memiliki lebar sungai 15-20 meter. Kurang lebih 2 jam diatas stempel kami telah sampai di dermaga Sara Baru, meskipun tak nampak dermaga pada umumnya.
Dermaga yang tak nampak dermaga seperti pada umumnya
Dengan beberapa barang donasi yang dibawa dari kota, kami mulai melangkah meninggalkan dermaga. Tak terlalu jauh dari dermaga kami sampai di lokasi sekolah SD Alue Keujrun. Dua bangunan berdiri berdampingan kontras terlihat, disebelah kanan bangunan berdinding kayu dan berlaskan tanah, sedangkan disebelah kiri bangunan berdinding semen kokoh berdiri. Kalau dilihat dari bangunannya, dulunya di SD tersebut hanya terdapat 3 lokal (ruang kelas), bangunan kokoh disampingnya itu baru berdiri beberapa tahun terakhir.
Halaman depan ruang kelas yang berdebu tak menyurutkan siang itu
Kami mulai bermain dibawah bendera yang sama "Indonesia"
Bernyanyi dengan khidmat "Indonesia Raya" diawal kegiatan, mempertebal rasa nasionalisme pada jiwa anak-anak terlebih pada diri kami sendiri. Dibawah teriknya panas matahari tak menyurutkan semangat anak-anak Sara Baru untuk mengikuti kegiatan. Kami bermain, berbagi cerita dan motivasi kepada anak-anak penuh semangat itu. Tak banyak jumlah mereka, dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 mungkin tak genap 40 orang. Didalam ruangan kami lebih banyak mengajak anak-anak Sara Baru berkomunikasi. Bertukar cerita dan mengedukasi bagaimana menjaga kelestarian hidup di sekelilingnya. Juga mencari tau seperti apa ikan kerling yang konon katanya ikan air tawar yang paling mahal dan enak yang hanya dapat ditemui di sekitar sungai Menggamat.
Dan kami mulai bermain bersama
Pak Ali Hanafiah yang tak sungkan ikut serta muridnya bermain "ular naga"
Pak Ali yang telah mengabdi di Sara Baru kurang lebih 18 tahun tak segan mengikuti kegiatan kami. Seolah kami ditunjukkan oleh beliau bahwa pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama, bukan kaum tua saja ataupun kaum muda saja. Rumah Pak Ali sebenarnya berada di Menggamat, bukanlah Sara Baru. Bersama sang Istri Pak Ali melakukan aktivitasnya menyusuri sungai Lawe Melang untuk datang kesekolah.
Inilah sosok Pak Ali Hanafiah
Jarak dan resiko yang besar, Pak Ali bersama istri dan beberapa guru lainnya memilih tinggal di rumah dinas yang terletak di sanping sekolah. Kadang seminggu berada di Sara Baru kemudian turun (istilah pulang kerumah) atau tergantung ketika ada urusan mendadak. Pak Ali dibantu oleh 8 orang Guru dan juga karyawan setiap harinya untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari di SD tersebut.
Kegiatan di dalam ruangan
Kegiatan pun usai, kami melangkah meninggalkan SD dan menuju ke dermaga. Anak-anak Sara Baru pun mengikuti kami ke dermaga. Mereka menghantarkan kami pulang di dermaga sembari bermain air, layaknya di taman bermain. Ya karena tempat itulah mereka biasanya bermain dan mencari ikan.
Bagi mereka inilah kolam renang tempat taman bermain yang paling mewah
Inilah video perjalanan kami dan kegiatan kami selama berada di SD Alue Keujrun, Sara Baru, Menggamat, Kabupaten Aceh Selatan.

Beberapa bulan setelah acara itu, di bulan Agustus kami sempat bertemu Pak Ali Hanifiah lagi, tepatnya di acara perpisahan guru SM-3T dan juga penerimaa Gurdacil (Guru Daerah Terpencil) Kabupaten Aceh Selatan. Kebetulan SD Alue Keujrun mendapatkan beberapa Guru bantu dan menurut info sejak saat itu telah dibuka SMP satu atap di Alue Keujrun Sara Baru. Info yang menyegarkan bagi kami karena anak-anak di Sara Baru tak perlu turun untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi setelah lulus dari SD.

8 January 2016

"Berkereta" Sejauh 412 Kilometer Menuju Ibukota Provinsi


Kurang lebih Empat ratus dua belas kilometer perjalanan touring dari kabupaten menuju ibukota provinsi itu telah terlewati. Liburan sekolah akhir tahun dan juga mumpung lagi di aceh selatan ingin mengunjungi ke beberapa tempat di ibukota provinsi. Ya, Banda aceh, ibukota provinsi yang terletak paling ujung di negeri ini. Tujuannya bukan hanya banda aceh, tapi sekaligus menyinggahi kota sabang. 
tak lupa selfie 
27 desember 2015, sekitar pukul 11 siang dengan mengendarai “kereta” (sebutan sepeda motor warga aceh) bersama teman seperjuangan sebut saja jihan (bukan nama samaran) perjalanan panjang itu dimulai. Sempat bertanya ke warga tetangga, jarak tempuh kabupaten aceh selatan dengan banda aceh itu berapa jam. Jawabannya pun beragam, ada yang menjawab 6 jam sampai 10 jam, yaa rata-rata 8 jam lah kira-kira. Bukan jarak yang dekat mengingat rute yang akan ditempuh adalah perjalanan dari kabupaten ke ibukota provinsi. Kalau dijawa, jarak 412 km itu sudah lintas provinsi. 
jalanan menuju ibukota, menyusuri pinggir lautan
Ini adalah touring perdana di aceh yang bakal menjadi pengalaman perjalanan yang panjang. Di mulai dari Aceh selatan kemudian masuk daerah Abdya (Aceh barat daya) – Nagan Raya – Meulaboh – Aceh Jaya – Aceh Besar - Lhok Nga kemudian baru sampai di pusat kota Banda Aceh. Selama menempuh 412 KM itu rute yang dilewati pun bisa dibilang asik. Melewati pinggiran tepi pantai dan pegunungan, melewati hutan sawit. Seperti pemandangan di Gunung Geurutee. Kami sempat singgah ke warung didaerah puncak gunung Geurutee, sembari ngeteh manis menikmati sunset.
singgah di Puncak Geurutee sembari ngeteh manis
Sempat melihat postingan di IG akun Aceh, bahwa pulau yang terlihat dari Puncak Gunung Geurutee dulunya sebelum bencana tsunami, pulau tersebut menyambung menjadi satu, tetapi setelah tsunami pulau itu terpisah, dan diberi nama pulau Tsunami. Puncak Gunung Geurutee ini berlokasi di Aceh Jaya kilometer 66. Seselesainya ngeteh manis, setelah menuruni Puncak Gunung Geurutee, kami berhenti sejenak, karena hujan yang lumayan lebat. Kurang lebih pukul 9 malam kami sampai di banda aceh. Kalau ditotal berarti perjalanan kami menghabiskan waktu 10 jam dengan waktu istirahat makan dan singgah karena hujan. Setelah sampai di banda, kami harus muter-muter mencari tempat penginapan yang terjangkau. Akhirnya dapat di Wisma Dermaga yang terletak di  sekitar terminal labi-labi dekat pasar aceh. Pengalaman berkendara pertama ditanah rantau dengan jarak tempuh yang lumayan jauh.

10 December 2015

Tradisi "Makmegang", Tradisi Tolak Bala Warga Aceh Selatan


Setiap daerah mempunyai tradisi dan budayanya sendiri. Tak terkecuali dengan kota Aceh Selatan. Banyak hal baru yang saya temui ditempat ini, terlebih masalah budaya dan adat istiadatnya. Ada yang mirip ritualnya tetapi beda namanya, bahkan ada yang berbeda sama sekali. Sebagai contoh prosesi penyembelihan hewan kurban yang telah saya posting sebelumnya.
Para Teungku, tokoh agama dan pemangku adat sedang berdoa di makam sesepuh desa
Hari kemarin, Rabu 9 Desember, kalau kota lainnya sedang sibuk dengan Pilkada serentak, di aceh selatan justru serasa hari keluarga. Aceh salah satu daerah khusus keistimewaan sehingga tak melaksanakan Pilkada. Kegiatan ini bukan piknik, melainkan tradisi "makmegang", sebuah tradisi tolak bala warga aceh. Tradisi ini jatuh pada hari rabu terakhir dibulan sapar. Kalau dijawa disebut "rabu pungkasan". Teungku (Kyai) memimpin doa yang dilaksanakan di pinggir pantai karena kebetulan makam "sesepuh warga Lhok Aman Kecamatan Meukek berada di pinggir pantai.
Sebagian anak anak asik bermain di pantai pada saat makmegang
Acara doa pada tradisi ini adalah dilakukan oleh teungku, tokoh agama dan pemangku adat setempat, ada juga sebagian warga yang mengikuti acara doa. Sehingga, Warga desa Lhok Aman silih berganti datang ke pinggir pasie (pantai) Lhok Aman karena tidak terikat harus wajib mengikuti prosesi ritual doa.
Warga Desa Lhok Aman berkumpul bersama keluarga

7 December 2015

Selamat Hari Guru !


Oktober, bulan ke 3 berada di pulau seberang, pulau yang tidak sempat terbayangkan sebelumnnya bisa merasakan kehidupan di kota ini. Daerah yang terkenal dengan legenda tapak tuan sebagai ibukota kabupatennya. Aceh selatan, kota yang kurang lebih 8 jam dari pusat ibukota Banda Aceh. Memberikan apa yang dipunya untuk berbagi dengan anak-anak di ujung negeri adalah salah satu motivasi berhijrah dan mengikuti program SM3T. SMK Negeri 1 Meukek, sekolah yang umurnya belum genap kepala dua adalah tempat tugas saya dikota ini. Sekolah yang berdiri sejak tahun 2008 dengan jumlah murid kurang lebih 150 orang.
Ada satu hari peringatan di bulan oktober yang istimewa dalam dunia pendidikan. Hari ulang tahun PGRI dan Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 Oktober setiap tahunnya. Tahun ini merupakan kali pertama merasakan hari guru sebagai guru. Pada kesempatan ini, bekerja sama dengan guru pendamping osis, membuat sebuah seremonial peringatan di hari guru, yang ditahun-tahun sebelumnya belum dilaksanakan. Anggota Osis diberdayakan sebagai pelaksana kegiatan, dengan tujuan mengajarkan siswa, mempersiapkan dan melatih tanggungjawab dengan bekerja sama antara satu murid dengan murid lainnya.
Upacara di halaman sekolah
Setelah persiapan beberapa hari, pagi itu nampak ada yang berbeda di tanggal 25 Oktober dibanding tahun-tahun sebelummnya. Upacara bendera dilanjutkan dengan peringatan hari guru. Paduan suara dengan arahan teman guru seperjuangan Pak Jihan membawakan Hymne guru dan lagu guruku tersayang membuat suasana berbeda di antara kicauan burung yang bermain di atap gedung sekolah. Peringatan ini juga ada pengumuman guru favorit pilihan siswa yang telah dilakukan polling pemilihan di hari-hari sebelummnya.
Penyerahan bingkisan kepada guru favorit
Bersabungan, berjabat tangan
Bersalaman kepada guru-guru sembari membagikan bunga
Dia akhir acara, ada penyerahan kue dari perwakilan osis untuk guru-guru yang diterima kepala sekolah. Sebagai penutup acara, murid-murid berjabat tangan dan memberikan simbolis bunga kertas kepada seluruh jajaran guru SMK Negeri 1 Meukek.
Berfoto bersama Kepala Sekolah, dan siswa SMK N 1 Meukek
"Selamat hari guru para pahlawan, pahlawan tanpa tanda jasa dan bintang kehormatan. Semoga tetap mendidik dan mengispirasi murid murid di indonesia". 

29 September 2015

Hewan Kurban yang di Makeup

Lantunan takbir dari toa-toa masjid itu terasa berbeda. Walau terdengar sama seperti takbiran idul adha pada umumnya, namun ada rasa yang berbeda. Ya karena suara lantunan takbir idul adha 1436 H itu tidak terdengar dari toa masjid kampung halaman seperti sebelum-sebelumnya.
Masjid Lhokaman
Rentetan kegiatan Perayaan hari raya idul adha yang saya temui selama ini hanya penyembelihan hewan kurban setelah sholat ied saja. Ditempat tinggal baru ini, di Dusun Padang, Desa Lhokaman Kecamatan Meukek, saya menemukan ada tradisi yang berbeda. Berkunjung ke sanak saudara dan tetangga dihari raya idul adha dihari pertama adalah hal yang biasa, layaknya ketika perayaan idul fitri.
Setelah sholat ied, warga mengunjungi rumah satu sama lain. Hari sebelumnya, ibuk-ibuk sibuk mempersiapkan masakan khas ala aceh. Lemang, ketupat ketan beserta tape ketan merah,  dan lontong acehnya pun diusahakan ada dimeja makan. Kak Erna, contoh salah satu tetangga yang membuat lemang. Di belakang rumah, walau hujan gerimis tetap ulet membuat lemang. Bambu-bambu itu disusun berjajar rapi di samping nyala bara api. Ya memang bukan diatas api, melainkan hanya disamping api dengan tujuan terkena asapnya api saja supaya bambu tidak cepat terbakar.
Proses pembuatan lemang dibelakang rumah
Tak selamanya tape berpasangan dengan emping, Tape ketan merah dan ketupat ketan 
Tradisi yang unik saya temui adalah proses penyembelihan hewan kurban. Setelah hari pertama digunakan untuk silaturohmi, hari kedua proses penyembelihan hewan kurban itu dilaksanakan. Bagi mereka yang berkurban, datang dengan membawa satu sampai dua nampan berisi makanan dan perlengkapan perawatan tubuh. Makanan dan perlengkapan perawatan itu diperuntukan bagi hewan yang akan dikurbankan. Roti, nasi ketan, pisang, kemudian ada parfum, handbody, bedak, kaca rias dan lain-lain. Setelah ijab serah terima dari yang berkurban diserahkan kepada panitia, hewan kurban kemudian diterima tengku imam masjid atau sesepuh agama sekaligus juga sebagai imam masjid. Tengku imam yang kebetulan nama tengku di Desa Lhok Aman adalah Pak Imam, membacakan doa, kemudian memberi makanan dan memberi bedak, parfum, dengan memotong sedikit rambut hewan kurban, sambil memperlihatkan wajah hewan kurban ke kaca rias. Setelah selesai proses tersebut, kemudian baru digiring menuju ke tempat penyembelihan. Membentangkan kain putih dan payung menutupi badan hewan kurban.
Hewan kurban yang sedang di dandani oleh ketua lorong (Kepala Dusun) dan Tengku Imam
Prosesi penyembelihan dengan kain putih dan payung sebagai penutup hewan kurban
Timbul pertanyaan, apa maksud dari tradisi yang dilakukan. Saya bertanya kepada seorang warga yang kebetulan juga tokoh pemuda Dusun setempat. Maksud dari tradisi ini adalah sama seperti proses penguburan manusia. Sebelum dikubur, manusia dimandikan, diberi wangi-wangian. Pembentangan kain putih dan payungpun juga seperti itu maksudnya, sama seperti proses penguburan jenazah manusia ke liang lahat yang terakhir.
Bakar kepala hewan kurban cara tradisional
Kepala hewan yang telah dibakar, siap untuk dikuliti
Setelah proses penyembelihan dan distribusi hewan kurban selesai dilakukan, kemudian tradisi masak kepala hewan kurban. Kepala hewan kurban itu dibawa ke rumah Tuhapeut (tetua/ketua orang tua) untuk dimasak. Gotong royong bersama pemuda memasak kepala hewan kurban. Setelah siap disajikan, masakan tersebut dinikmati bersama tokoh kampung setempat. Semua bekerja sesuai dengan porsinya, ada yang memetik pohon kelapa, mencari kayu, memasak nasi dan membuat kopi. Tradisi masak kepala hewan kurban ini dilakukan semuanya oleh kaum pria.
Semua ada porsi kerjanya masing-masing, bagian "perwajanan"
Siap dihidangkan, sama rata sama rasa
Inilah Indonesia, indah dengan beragam tradisi dan budanyanya, kental dengan rasa gotong royong bersama. Berkunjung ke daerah baru, selamilah juga budayanya tidak hanya keindahan alamnya. Setiap daerah pasti punya cara, adat istiadat tersendiri, dan semua itu tidak bisa disamakan. Seperti pepatah jawa bilang "desa mawa cara, negara mawa tata", maka hargailah perbedaan.

26 September 2015

Kini Daerah Istimewa di Ujung Indonesia itu Menjadi Rumah Kedua

"Kawanku seperjuangan, tengoklah di Lanal Malang, Tempat sarjana dididik dan ditempa menjadi pendidik yang sejati, Lanal Malang.. Lanal Malang, tempat kenangan kami, Kami siap, kami sedia ditempatkan dimana saja"
Begitulah salah satu lirik dari sekian yel-yel yang selalu terdengar di Prakondisi SM3T (Sarjana Mendidik di daerah 3T) Universitas Negeri Malang. Kalau dibuatkan album, mungkin yel-yel selama prakondisi sudah cukup untuk di-release dalam bentuk kepingan vcd, mengingat jumlah yel-yel tidak sedikit, hehe.
Sragam yang baru dibagikan pun langsung buat pel lapangan ( Sumber : Panitia Prakondisi SM3T UM 2015)
Postingan ini dan beberapa postingan berikutnya mungkin akan out off the context tempat wisata seperti yang biasa saya tulis/review. Merantau untuk mengikuti program SM3T, dan melalui sebuah catatan ini akan saya sampaikan mungkin hanya beberapa dari sekian banyak pengalaman yang telah saya alami, berbagi informasi ditempat persinggahan, kota tempat tinggal kedua saya setelah rumah beserta keluarga yang saya tinggalkan demi keterpanggilan hati, hehe
Terhitung dari tanggal 2 Agustus sampai dengan 17 Agustus,  menjadi peserta mengikuti program prakondisi SM3T angkatan V di Lanal Malang.  Menjalani rutinitas seolah-olah pendidikan yang diperuntukan anggota militer. Dari bangun tidur sampai tidur lagi kegiatan kami diatur dengan sedemikian, sehingga waktu tak terbuang sia-sia.
Upacara Pembukaan Prakondisi ( Sumber : Panitia Prakondisi SM3T UM 2015)
Dua minggu pun berlalu saat pagi itu, masih dihinggapi rasa penasaran dimanakah kami akan ditempat tugaskan. Karena LPTK kampus lain telah mengumumkan sebelum berangkat prakondisi, seperti contohnya LPTK kampus saya, kampus nomor satu di jalan colombo telah mengumumkan penempatan daerah tugas H-1 sebelum pelaksanaan Prakondisi.
Hari terakhir prakondisi ditutup dengan acara outbound. Pada sore harinya kertas pengumuman penempatan lokasi tugas telah tertempel disudut lapangan tenis di area Lanal Malang. Ekspresi wajah yang beraneka macam. Terlihat ada  yang senang, sedikit kecewa, adapula yang datar. Bagi yang ekpresinya senang adalah bagi mereka-mereka yang tempat tugasnya sesuai dengan ekspektasinya, yang kecewa adalah yang tak sesuai ekspektasinya, sedangkan yang datar adalah bagi mereka yang pasrah, tak membeda-bedakan daerah tugas manapun.
Kalau ada judulnya, "Malam Terakhir" dalam kebersamaan sebelum pemberangkatan
Tanggal 18 Agustus dini hari, pemberangkatan kedaerah tugas dimulai. Daerah tugas aceh selatan, kabupaten pidie jaya, kabupaten Simeleu, dan Kabupaten Bintan Riau mendapat jadwal penerbangan pertama meninggalkan Lanal Malang, disusul selanjutnya daerah tugas Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Pegunungan Bintang, serta Kabupaten Boven Digoel di pulau Papua.
Senja Pertama dalam Perjalanan Banda Aceh menuju ke Aceh Selatan
Kini, sudah sebulan rasanya kami saling tak bersua. Semua telah berada tugas didaerah masing-masing dan saya mendapatkan tugas dikabupaten Aceh Selatan, tepatnya di SMK N 1 Meukek. Sebuah sekolah yang masih tergolong baru dan sedang berkembang. Pengalaman kehidupan baru ini dimulai dari 19 Agustus dimana hari itu kami serombongan tiba di kota Tapaktuan, kota kabupaten Aceh Selatan.
Persiapan upacara serah terima peserta SM3T ke pihak Kabupaten Aceh Selatan 
Selama satu tahun kedepan berada di Aceh Selatan, khusunya Dusun Padang, Desa Lhokaman Kecamatan Meukek akan menjadi persinggahan rumah kedua setelah Jogja. Kota yang sama sama bertitle daerah istimewa. Semoga ditempat ini bukan layaknya dermaga saja, hanya menjadi persinggahan kemudian pergi. Aceh tak sekedar hanya menjadi tempat persinggahan, tetapi juga memberikan pengalaman dan pembelajaran hidup yang istimewa se istimewa title daerahnya.


Copyright © #ndesolicious | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com