“ditepian kota itu (p)enak”

22 April 2016

Sabang, Pariwisata Bahari Aceh yang Akan Terkenang

Sabang, tujuan perjalanan selanjutnya setelah menempuh kurang lebih 412 Kilometer dari kabupaten aceh selatan ke ibukota provinsi untuk napak tilas peristiwa tsunami. Ini adalah pengalaman pertama berkendara jauh bersepeda motor selama di Aceh Selatan. Tak terbayangkan sebelumnya bisa sampai ke Aceh, apalagi di sabang, kota yang kita kenal sebagai “Titik Nol” nya Indonesia. Kota yang beribu kilometer jaraknya dari tempat sebenarnya saya berasal.
Dulunya hanya terngiang pada lirik lagu "..Dari sabang sampai Merauke..”, kini akhirnya menginjakkan kaki juga di pulau yang disebut-sebut dalam lagu tersebut. Akhir tahun 2015, tepatnya tanggal 29 Desember 2015 saya berkesempatan untuk mengunjungi pulau terbarat di Indonesia. Dengan menggunakan Kapal Feri bertarif 25 ribu rupiah kita bisa menyebrang dari pelabuhan Ulee Lheue ke Pelabuhan Balohan. Waktu yang ditempuh antar pelabuhan tersebut kurang lebih adalah 2 jam.
Menyebrang ke Sabang lewat Pelabuhan Ulee Lheue
Sabang dengan wisata baharinya, membuat setiap orang pasti ingin untuk mengunjungi. Sebelum sampai ketempat ini, carilah refrensi tempat wisata yang “harus” dikunjungi supaya tidak ada tempat wisata yang terlewatkan. Kalaupun bingung, bisa cari informasi di pelabuhan balohan, nanti akan mendapatkan peta objek wisata. Peta tersebut cukup membantu untuk kita gunakan sebagai guide kita selama berwisata di Sabang.
Peta wisata Sabang yang bisa kita dapatkan di pusat informasi Pelabuhan Balohan
Diatas kapal perjalanan ke Sabang
Sekitar pukul 2 siang kapal berlabuh di pelabuhan Balohan Sabang. Destinasi yang pertama kali saya kunjungi adalah ke Tugu Nol Kilometer. Sengaja mendatangi Tugu Nol Kilometer supaya bisa menikmati sunset di senja hari. Tugu Nol kilo meter yang langsung berhadapan lautan lepas, menjadikan suasana jingga menyala saat senja begitu terasa. Benar saja, saya mendapatkan senja sang surya sempurna terlihat ketika meninggalkan haris horizon samudra. Meski tugu dalam proses pemugaran, tetapi terlihat setiap orang yang telah sampai datang ke tempat itu ingin mengabadikan moment di tugu ujungnya indonesia, saat senja dengan cara setiap individu yang berbeda.
Tugu kilometer nolnya Indonesia
Hari berikutnya, pantai Iboih berpasir putih dengan spot snorkeling favorit adalah tujuan selanjutnya. Letak spot snorkeling adalah di pulau seberang pantai Iboih, yaitu pulau Rubiah.
Pantai Iboih dengan spot snorkeling favorit
Untuk dapat sampai ke pulau seberang, kita menyewa kapal yang dapat di isi sampai dengan 10 orang. Tak perlu bingung, di sekitaran pantai Iboih banyak tersedia persewaan perlengkapan snorkeling, maupun diving. Perlengkapan snorkeling (life jacket, Snorkel dan kacamata, Kaki katak) yang lengkap mulai 80 ribu untuk harga sewa sehari.
Sewa perahu untuk menuju ke spot snorkeling di Pulau Rubiah.
Bersama teman-teman, snorkeling akan terasa menyenangkan
Terumbu karang dan ikan banyak kita jumpai di spot snorkeling pulau Rubiah. Sebagai saran, gunakan guide sebagai pemandu snorkeling. Guide akan mengarahkan kita menunjukkan dimana spot snorkeling yang bagus, akan membantu juga untuk mengabadikan moment anda ketika bersnorkeling.
Spot sepeda motor di bawah laut
Kita akan disambut dengan berjuta keidahan ikan dan terumbu karang
Guide yang membersamai kami saat itu menunjukkan beberapa spot yang ada dipulau rubiah. Dari spot sepeda motor dibawah air, sampai spot menemukan ikan nemo. Hari itu, kami mulai snorkeling dari jam 9 sampai dengan sore sekitar jam 4 sore.
Hay Nemo Sabang !
Seharian bermain air, tapi sepertinya masih kurang untuk mengeksplore keindahan alam bawah laut di pulau Rubiah. Ini adalah keindahan alam bawah laut nyata di ujung indonesia.
Saatnya kembali ke daratan setelah seharian di lautan
Tanggal 31 Desember keesokan harinya, di akhir tahun 2015, tujuan selanjutnya adalah mendatangi tempat wisata yang belum dikunjungi, sembari melanjutkan perjalanan untuk kembali menyebrang ke kota Banda Aceh. Pantai Sumur Tiga, pantai yang juga berpasir putih adalah pantai yang juga favorit untuk dikunjungi. Pantai yang berada dibawah jurang ini mengharuskan kita menuruni anak tangga untuk sampai di bibir pantai.
Pantai Sumur Tiga, Pantai berpasir putih yang akan menjadi primadona
Sabang Marine Festival  ( sumber ; http://disbudpar.acehprov.go.id)
Selanjutnya adalah mengunjungi Benteng Jepang, tempat yang dijadikan markas angkatan laut jepang di tahun 1942. Pada kurun waktu tahun 1942-1945 sabang dijadikan markas angkatan laut jepang guna menghadapi sekutu di samudra hindia. Ditempat itu masih terdapat meriam besi disalah satu bangunannya.
Meriam yang masih tersisa di lokasi Benteng Jepang
Diatas benteng pertahanan jepang, yang langsung menghadap ke lautan
Sebenarnya masih banyak tempat yang belum saya kunjungi pada waktu itu, karena mengejar jadwal keberangkatan kapal dari pelabuhan balohan ke Ulee Lheue akhirnya selesai sudah perjalanan di kota sabang.
Terimakasih Sabang !
Ada banyak hal baru yang bisa dibawa pulang, perjalanan panjang dari kabupaten aceh selatan ke sabang. Ya, pulau ujung Indonesia, akhirnya kaki dan jiwa raga saya sudah pernah menginjakkan di sana. Perjalan ini pun saya abadikan, supaya bisa akan selalu terkenang, menjejakan kaki ke pulau diujung Indonesia

Akan ada banyak cerita yang bisa disampaikan kelak pada keluarga sewaktu pulang ke “pelabuhan terindah”, kota dimana saya sesungguhnya berasal yaitu Yogyakarta. Namun, Sabang kota diujung seberang, semoga tak lekang dan akan selalu terkenang hingga usia mendatang.

20 April 2016

Sehari Napak Tilas Peristiwa Tsunami

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 412 kilometer, kurang lebih 8 jam perjalanan naik sepeda motor, akhirnya sampai juga di Ibukota Provinsi Aceh pada malam harinya. Beberapa tempat wisata yang kami list akan kami coret satu persatu di keesokan paginya, setelah semalaman beristirahat di Wisma Dermaga. Harga sewa wisma yang lumayan murah dibandingkan yang lain, setelah kami muter-muter dan survey ke beberapa tempat selama 2 jam untuk mencari tempat persinggahan. Seratus ribu permalam harga sewa sebuah kamar di Wisma Dermaga yang bisa dipakai untuk 2 orang, dilengkapi kipas dan kamar mandi dalam.
Selamat datang di Aceh Museum Tsunami
Pagi itu, 28 Desember 2015 bangun pagi yang tak seperti sedia kala. Pagi pertama tanpa kokokan ayam yang biasa terdengar saat di Aceh Selatan. Layaknya liburan singkat sehari, mengunjungi museum dan beberapa tempat saksi bisu peristiwa tsunami di kota Banda Aceh dan sekitarnya 10 tahun silam, seolah membawa pikiran kembali mengingat terjadinya tsunami. 
Helikopter yang rusak di terjang tsunami
Tempat yang akan kami singgahi pertama kali adalah Museum Tsunami. Tempat yang mengingatkan dan membawa ke peristiwa tsunami. Didepan pintu masuk, sebelum memasuki lorong tsunami dipajang bangkai helikopter yang sudah rusak. Saat masuk lorong tsunami, suasana gelap dengan gemercik air, membawa kita ke peristiwa tsunami 26 desember 2004 silam yang lalu.
"Seribu Nama" diruang doa
Setelah masuk lorong tsunami, kita akan dibawa ke ruang sumur doa, jembatan harapan dan beberapa sudut ruangan lainnya yang akan menunjukkan betapa dahsyatnya peristiwa tsunami saat itu. Menurut saya, Museum tsunami bukanlah sebuah tempat wisata belaka, museum tsunami merupakan bagian dari sejarah warga aceh dengan semangatnya tumbuh menjadi aceh yang baru.
Kumpulan foto yang tersaji di sudut Museum Tsunami
"Space of Hope" Jembatan Harapan
Selanjutnya, tempat yang menjadi list tujuan adalah Museum kapal PLTD (pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Apung I yang beroperasi lepas pantai. Di tempat ini, saya diperlihatkan betapa kuatnya gelombang tsunami saat itu. Kapal besi dengan berat 2600 Ton terdorong gelombang tsunami sejauh 5 kilometer kedaratan.
Kapal PLTD yang terdampar di tengah kampung
Kapal yang sebelum peristiwa tsunami beroperasi sebagai pembangkit listrik tenaga diesel 10 Megawatt, dan mulai sejak 21 Juni 2010 Kapal tersebut berubah menjadi situs sejarah . Mesin diesel listrik yang berada didalamnya dibongkar dan dipindahkan ke PLTD Luengbata. Sejak saat itu, Kapal Apung I PLTD yang terdampar sudah beralih fungsi, disulap menjadi situs dan wisata museum edukasi.
Dek kapal dirubah menjadi museum edukasi
Informasi digital mengenai kapal dan keadaan sebelum dan sesudah tsunami
Museum Aceh, destinasi selanjutnya yang kami kunjungi saat waktu telah beranjak semakin sore. Sepertinya kurang beruntung saat sampai di tempat itu. Pintu museum telah tertutup rapat, hanya tersisa pintu gerbang yang masih terbuka dan menyisakan beberapa pengunjung saja. Museum yang layaknya miniatur Aceh, kearifan lokal aceh semua bisa kita jumpai di Museum Aceh ini.


Museum Rumoh Aceh
Akhir dari perjalanan di Banda Aceh hari itu adalah Masjid Raya Baiturrahman. Bangunan satu satunya yang hanya tersisa diantara bangunan lainnya saat tsunami terjadi. Bangunan bagian depan Masjid sedang di rehab dan rencananya akan dibangun payung besar yang dapat membuka tutup.
Sudut yang Masjid Raya Baiturrahman di sore hari
Liburan sehari di Banda Aceh, mungkin seperti itu istilahnya. Mengunjungi benda mati yang pernah menjadi saksi kedahsyatan tsunami. Kota yang dikenal sebutan tanah rencong dengan syariat islamnya.
Syariat islam yang diterapkan pada jam buka kunjung museum. Saya mendapati jam-jam waktu masuk sholat, museum-museum itu ditutup sementara. Yang paling kentara adalah sewaktu menyinggahi Museum PLTD Apung I saat memasuki waktu adzan ashar. Terdengar dari pengeras suara menyerukan untuk segera meninggalkan museum, hitung mundur dari 15 menit sebelum waktu adzan tiba. Akan ada petugas penertiban, yang memukul pagar besi museum itu, sembari berteriak kepada pengunjung untuk meninggalkan musem dengan segera. Ini adalah hal baru yang pernah saya temui, liburan di kota paling ujung di negeri ini, kota dengan syariat islami.


8 January 2016

"Berkereta" Sejauh 412 Kilometer Menuju Ibukota Provinsi


Kurang lebih Empat ratus dua belas kilometer perjalanan touring dari kabupaten menuju ibukota provinsi itu telah terlewati. Liburan sekolah akhir tahun dan juga mumpung lagi di aceh selatan ingin mengunjungi ke beberapa tempat di ibukota provinsi. Ya, Banda aceh, ibukota provinsi yang terletak paling ujung di negeri ini. Tujuannya bukan hanya banda aceh, tapi sekaligus menyinggahi kota sabang. 
tak lupa selfie 
27 desember 2015, sekitar pukul 11 siang dengan mengendarai “kereta” (sebutan sepeda motor warga aceh) bersama teman seperjuangan sebut saja jihan (bukan nama samaran) perjalanan panjang itu dimulai. Sempat bertanya ke warga tetangga, jarak tempuh kabupaten aceh selatan dengan banda aceh itu berapa jam. Jawabannya pun beragam, ada yang menjawab 6 jam sampai 10 jam, yaa rata-rata 8 jam lah kira-kira. Bukan jarak yang dekat mengingat rute yang akan ditempuh adalah perjalanan dari kabupaten ke ibukota provinsi. Kalau dijawa, jarak 412 km itu sudah lintas provinsi. 
jalanan menuju ibukota, menyusuri pinggir lautan
Ini adalah touring perdana di aceh yang bakal menjadi pengalaman perjalanan yang panjang. Di mulai dari Aceh selatan kemudian masuk daerah Abdya (Aceh barat daya) – Nagan Raya – Meulaboh – Aceh Jaya – Aceh Besar - Lhok Nga kemudian baru sampai di pusat kota Banda Aceh. Selama menempuh 412 KM itu rute yang dilewati pun bisa dibilang asik. Melewati pinggiran tepi pantai dan pegunungan, melewati hutan sawit. Seperti pemandangan di Gunung Geurutee. Kami sempat singgah ke warung didaerah puncak gunung Geurutee, sembari ngeteh manis menikmati sunset.
singgah di Puncak Geurutee sembari ngeteh manis
Sempat melihat postingan di IG akun Aceh, bahwa pulau yang terlihat dari Puncak Gunung Geurutee dulunya sebelum bencana tsunami, pulau tersebut menyambung menjadi satu, tetapi setelah tsunami pulau itu terpisah, dan diberi nama pulau Tsunami. Puncak Gunung Geurutee ini berlokasi di Aceh Jaya kilometer 66. Seselesainya ngeteh manis, setelah menuruni Puncak Gunung Geurutee, kami berhenti sejenak, karena hujan yang lumayan lebat. Kurang lebih pukul 9 malam kami sampai di banda aceh. Kalau ditotal berarti perjalanan kami menghabiskan waktu 10 jam dengan waktu istirahat makan dan singgah karena hujan. Setelah sampai di banda, kami harus muter-muter mencari tempat penginapan yang terjangkau. Akhirnya dapat di Wisma Dermaga yang terletak di  sekitar terminal labi-labi dekat pasar aceh. Pengalaman berkendara pertama ditanah rantau dengan jarak tempuh yang lumayan jauh.

10 December 2015

Tradisi "Makmegang", Tradisi Tolak Bala Warga Aceh Selatan


Setiap daerah mempunyai tradisi dan budayanya sendiri. Tak terkecuali dengan kota Aceh Selatan. Banyak hal baru yang saya temui ditempat ini, terlebih masalah budaya dan adat istiadatnya. Ada yang mirip ritualnya tetapi beda namanya, bahkan ada yang berbeda sama sekali. Sebagai contoh prosesi penyembelihan hewan kurban yang telah saya posting sebelumnya.
Para Teungku, tokoh agama dan pemangku adat sedang berdoa di makam sesepuh desa
Hari kemarin, Rabu 9 Desember, kalau kota lainnya sedang sibuk dengan Pilkada serentak, di aceh selatan justru serasa hari keluarga. Aceh salah satu daerah khusus keistimewaan sehingga tak melaksanakan Pilkada. Kegiatan ini bukan piknik, melainkan tradisi "makmegang", sebuah tradisi tolak bala warga aceh. Tradisi ini jatuh pada hari rabu terakhir dibulan sapar. Kalau dijawa disebut "rabu pungkasan". Teungku (Kyai) memimpin doa yang dilaksanakan di pinggir pantai karena kebetulan makam "sesepuh warga Lhok Aman Kecamatan Meukek berada di pinggir pantai.
Sebagian anak anak asik bermain di pantai pada saat makmegang
Acara doa pada tradisi ini adalah dilakukan oleh teungku, tokoh agama dan pemangku adat setempat, ada juga sebagian warga yang mengikuti acara doa. Sehingga, Warga desa Lhok Aman silih berganti datang ke pinggir pasie (pantai) Lhok Aman karena tidak terikat harus wajib mengikuti prosesi ritual doa.
Warga Desa Lhok Aman berkumpul bersama keluarga

7 December 2015

Selamat Hari Guru !


Oktober, bulan ke 3 berada di pulau seberang, pulau yang tidak sempat terbayangkan sebelumnnya bisa merasakan kehidupan di kota ini. Daerah yang terkenal dengan legenda tapak tuan sebagai ibukota kabupatennya. Aceh selatan, kota yang kurang lebih 8 jam dari pusat ibukota Banda Aceh. Memberikan apa yang dipunya untuk berbagi dengan anak-anak di ujung negeri adalah salah satu motivasi berhijrah dan mengikuti program SM3T. SMK Negeri 1 Meukek, sekolah yang umurnya belum genap kepala dua adalah tempat tugas saya dikota ini. Sekolah yang berdiri sejak tahun 2008 dengan jumlah murid kurang lebih 150 orang.
Ada satu hari peringatan di bulan oktober yang istimewa dalam dunia pendidikan. Hari ulang tahun PGRI dan Hari Guru Nasional yang jatuh pada tanggal 25 Oktober setiap tahunnya. Tahun ini merupakan kali pertama merasakan hari guru sebagai guru. Pada kesempatan ini, bekerja sama dengan guru pendamping osis, membuat sebuah seremonial peringatan di hari guru, yang ditahun-tahun sebelumnya belum dilaksanakan. Anggota Osis diberdayakan sebagai pelaksana kegiatan, dengan tujuan mengajarkan siswa, mempersiapkan dan melatih tanggungjawab dengan bekerja sama antara satu murid dengan murid lainnya.
Upacara di halaman sekolah
Setelah persiapan beberapa hari, pagi itu nampak ada yang berbeda di tanggal 25 Oktober dibanding tahun-tahun sebelummnya. Upacara bendera dilanjutkan dengan peringatan hari guru. Paduan suara dengan arahan teman guru seperjuangan Pak Jihan membawakan Hymne guru dan lagu guruku tersayang membuat suasana berbeda di antara kicauan burung yang bermain di atap gedung sekolah. Peringatan ini juga ada pengumuman guru favorit pilihan siswa yang telah dilakukan polling pemilihan di hari-hari sebelummnya.
Penyerahan bingkisan kepada guru favorit
Bersabungan, berjabat tangan
Bersalaman kepada guru-guru sembari membagikan bunga
Dia akhir acara, ada penyerahan kue dari perwakilan osis untuk guru-guru yang diterima kepala sekolah. Sebagai penutup acara, murid-murid berjabat tangan dan memberikan simbolis bunga kertas kepada seluruh jajaran guru SMK Negeri 1 Meukek.
Berfoto bersama Kepala Sekolah, dan siswa SMK N 1 Meukek
"Selamat hari guru para pahlawan, pahlawan tanpa tanda jasa dan bintang kehormatan. Semoga tetap mendidik dan mengispirasi murid murid di indonesia". 

29 September 2015

Hewan Kurban yang di Makeup

Lantunan takbir dari toa-toa masjid itu terasa berbeda. Walau terdengar sama seperti takbiran idul adha pada umumnya, namun ada rasa yang berbeda. Ya karena suara lantunan takbir idul adha 1436 H itu tidak terdengar dari toa masjid kampung halaman seperti sebelum-sebelumnya.
Masjid Lhokaman
Rentetan kegiatan Perayaan hari raya idul adha yang saya temui selama ini hanya penyembelihan hewan kurban setelah sholat ied saja. Ditempat tinggal baru ini, di Dusun Padang, Desa Lhokaman Kecamatan Meukek, saya menemukan ada tradisi yang berbeda. Berkunjung ke sanak saudara dan tetangga dihari raya idul adha dihari pertama adalah hal yang biasa, layaknya ketika perayaan idul fitri.
Setelah sholat ied, warga mengunjungi rumah satu sama lain. Hari sebelumnya, ibuk-ibuk sibuk mempersiapkan masakan khas ala aceh. Lemang, ketupat ketan beserta tape ketan merah,  dan lontong acehnya pun diusahakan ada dimeja makan. Kak Erna, contoh salah satu tetangga yang membuat lemang. Di belakang rumah, walau hujan gerimis tetap ulet membuat lemang. Bambu-bambu itu disusun berjajar rapi di samping nyala bara api. Ya memang bukan diatas api, melainkan hanya disamping api dengan tujuan terkena asapnya api saja supaya bambu tidak cepat terbakar.
Proses pembuatan lemang dibelakang rumah
Tak selamanya tape berpasangan dengan emping, Tape ketan merah dan ketupat ketan 
Tradisi yang unik saya temui adalah proses penyembelihan hewan kurban. Setelah hari pertama digunakan untuk silaturohmi, hari kedua proses penyembelihan hewan kurban itu dilaksanakan. Bagi mereka yang berkurban, datang dengan membawa satu sampai dua nampan berisi makanan dan perlengkapan perawatan tubuh. Makanan dan perlengkapan perawatan itu diperuntukan bagi hewan yang akan dikurbankan. Roti, nasi ketan, pisang, kemudian ada parfum, handbody, bedak, kaca rias dan lain-lain. Setelah ijab serah terima dari yang berkurban diserahkan kepada panitia, hewan kurban kemudian diterima tengku imam masjid atau sesepuh agama sekaligus juga sebagai imam masjid. Tengku imam yang kebetulan nama tengku di Desa Lhok Aman adalah Pak Imam, membacakan doa, kemudian memberi makanan dan memberi bedak, parfum, dengan memotong sedikit rambut hewan kurban, sambil memperlihatkan wajah hewan kurban ke kaca rias. Setelah selesai proses tersebut, kemudian baru digiring menuju ke tempat penyembelihan. Membentangkan kain putih dan payung menutupi badan hewan kurban.
Hewan kurban yang sedang di dandani oleh ketua lorong (Kepala Dusun) dan Tengku Imam
Prosesi penyembelihan dengan kain putih dan payung sebagai penutup hewan kurban
Timbul pertanyaan, apa maksud dari tradisi yang dilakukan. Saya bertanya kepada seorang warga yang kebetulan juga tokoh pemuda Dusun setempat. Maksud dari tradisi ini adalah sama seperti proses penguburan manusia. Sebelum dikubur, manusia dimandikan, diberi wangi-wangian. Pembentangan kain putih dan payungpun juga seperti itu maksudnya, sama seperti proses penguburan jenazah manusia ke liang lahat yang terakhir.
Bakar kepala hewan kurban cara tradisional
Kepala hewan yang telah dibakar, siap untuk dikuliti
Setelah proses penyembelihan dan distribusi hewan kurban selesai dilakukan, kemudian tradisi masak kepala hewan kurban. Kepala hewan kurban itu dibawa ke rumah Tuhapeut (tetua/ketua orang tua) untuk dimasak. Gotong royong bersama pemuda memasak kepala hewan kurban. Setelah siap disajikan, masakan tersebut dinikmati bersama tokoh kampung setempat. Semua bekerja sesuai dengan porsinya, ada yang memetik pohon kelapa, mencari kayu, memasak nasi dan membuat kopi. Tradisi masak kepala hewan kurban ini dilakukan semuanya oleh kaum pria.
Semua ada porsi kerjanya masing-masing, bagian "perwajanan"
Siap dihidangkan, sama rata sama rasa
Inilah Indonesia, indah dengan beragam tradisi dan budanyanya, kental dengan rasa gotong royong bersama. Berkunjung ke daerah baru, selamilah juga budayanya tidak hanya keindahan alamnya. Setiap daerah pasti punya cara, adat istiadat tersendiri, dan semua itu tidak bisa disamakan. Seperti pepatah jawa bilang "desa mawa cara, negara mawa tata", maka hargailah perbedaan.

26 September 2015

Kini Daerah Istimewa di Ujung Indonesia itu Menjadi Rumah Kedua

"Kawanku seperjuangan, tengoklah di Lanal Malang, Tempat sarjana dididik dan ditempa menjadi pendidik yang sejati, Lanal Malang.. Lanal Malang, tempat kenangan kami, Kami siap, kami sedia ditempatkan dimana saja"
Begitulah salah satu lirik dari sekian yel-yel yang selalu terdengar di Prakondisi SM3T (Sarjana Mendidik di daerah 3T) Universitas Negeri Malang. Kalau dibuatkan album, mungkin yel-yel selama prakondisi sudah cukup untuk di-release dalam bentuk kepingan vcd, mengingat jumlah yel-yel tidak sedikit, hehe.
Sragam yang baru dibagikan pun langsung buat pel lapangan ( Sumber : Panitia Prakondisi SM3T UM 2015)
Postingan ini dan beberapa postingan berikutnya mungkin akan out off the context tempat wisata seperti yang biasa saya tulis/review. Merantau untuk mengikuti program SM3T, dan melalui sebuah catatan ini akan saya sampaikan mungkin hanya beberapa dari sekian banyak pengalaman yang telah saya alami, berbagi informasi ditempat persinggahan, kota tempat tinggal kedua saya setelah rumah beserta keluarga yang saya tinggalkan demi keterpanggilan hati, hehe
Terhitung dari tanggal 2 Agustus sampai dengan 17 Agustus,  menjadi peserta mengikuti program prakondisi SM3T angkatan V di Lanal Malang.  Menjalani rutinitas seolah-olah pendidikan yang diperuntukan anggota militer. Dari bangun tidur sampai tidur lagi kegiatan kami diatur dengan sedemikian, sehingga waktu tak terbuang sia-sia.
Upacara Pembukaan Prakondisi ( Sumber : Panitia Prakondisi SM3T UM 2015)
Dua minggu pun berlalu saat pagi itu, masih dihinggapi rasa penasaran dimanakah kami akan ditempat tugaskan. Karena LPTK kampus lain telah mengumumkan sebelum berangkat prakondisi, seperti contohnya LPTK kampus saya, kampus nomor satu di jalan colombo telah mengumumkan penempatan daerah tugas H-1 sebelum pelaksanaan Prakondisi.
Hari terakhir prakondisi ditutup dengan acara outbound. Pada sore harinya kertas pengumuman penempatan lokasi tugas telah tertempel disudut lapangan tenis di area Lanal Malang. Ekspresi wajah yang beraneka macam. Terlihat ada  yang senang, sedikit kecewa, adapula yang datar. Bagi yang ekpresinya senang adalah bagi mereka-mereka yang tempat tugasnya sesuai dengan ekspektasinya, yang kecewa adalah yang tak sesuai ekspektasinya, sedangkan yang datar adalah bagi mereka yang pasrah, tak membeda-bedakan daerah tugas manapun.
Kalau ada judulnya, "Malam Terakhir" dalam kebersamaan sebelum pemberangkatan
Tanggal 18 Agustus dini hari, pemberangkatan kedaerah tugas dimulai. Daerah tugas aceh selatan, kabupaten pidie jaya, kabupaten Simeleu, dan Kabupaten Bintan Riau mendapat jadwal penerbangan pertama meninggalkan Lanal Malang, disusul selanjutnya daerah tugas Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Pegunungan Bintang, serta Kabupaten Boven Digoel di pulau Papua.
Senja Pertama dalam Perjalanan Banda Aceh menuju ke Aceh Selatan
Kini, sudah sebulan rasanya kami saling tak bersua. Semua telah berada tugas didaerah masing-masing dan saya mendapatkan tugas dikabupaten Aceh Selatan, tepatnya di SMK N 1 Meukek. Sebuah sekolah yang masih tergolong baru dan sedang berkembang. Pengalaman kehidupan baru ini dimulai dari 19 Agustus dimana hari itu kami serombongan tiba di kota Tapaktuan, kota kabupaten Aceh Selatan.
Persiapan upacara serah terima peserta SM3T ke pihak Kabupaten Aceh Selatan 
Selama satu tahun kedepan berada di Aceh Selatan, khusunya Dusun Padang, Desa Lhokaman Kecamatan Meukek akan menjadi persinggahan rumah kedua setelah Jogja. Kota yang sama sama bertitle daerah istimewa. Semoga ditempat ini bukan layaknya dermaga saja, hanya menjadi persinggahan kemudian pergi. Aceh tak sekedar hanya menjadi tempat persinggahan, tetapi juga memberikan pengalaman dan pembelajaran hidup yang istimewa se istimewa title daerahnya.


Copyright © #ndesolicious | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com