“ditepian kota itu (p)enak”

Showing posts with label Curug. Show all posts
Showing posts with label Curug. Show all posts

1 May 2015

Malah Ketemu Air Terjun Watulawang

Kisah ini adalah lanjutan dari petualangan ke Kedung Tolok Siluk pada hari Minggu, 26 April 2015 silam. Awalnya kami hanya ingin melewati Jembatan Selopamioro Imogiri saja saat perjalanan pulang, tapi malah ketemu plang penunjuk air terjun. Tak ayal rasa gelisah ingin tahu seberapa epic air terjun tersebut yang membuat kami memilih memutar arah sepeda. Ada hal yang berbeda di sepanjang rute ke Jembatan Selopamioro Imogiri, kalau dulu waktu berkunjung ke jembatan tersebut masih sepi-sepi saja, sekarang berbeda. Lebih ramai dengan lapak warung yang menjual pernak-pernik watu alam alias cikal bakal watu akik. Kemungkinan batu-batu tersebut dicari dari sekitar sungai oya yang melintasi daerah Jembatan Selopamioro. Suasananya pun juga sudah ramai, berbeda dengan tahun 2013 silam saat ke empat kawula muda yang pertama kalinya bersepeda jauh ke jembatan selopamioro imogiri.
Petunjuk kuning di pinggir jalan, awal mula bertambahnya rasa penasaran
Penasaran dengan plang petunjuk berwarna kuning di pinggir jalan, membuat kami membelokkan arah sepeda. Tujuannya mencari kemana petunjuk berwarna kuning tersebut berakhir. Sebenaranya kegelisahan sudah kami rasakan ketika memandang pegunugan, sekilas terlihat air yang jatuh dari pegunungan dengan debit air yang cukup lumayan.
Rute ke lokasi cukup mudah dijangkau, rutenya adalah sejalan kalau ingin menyinggahi Jembatan Selopamioro Imogiri. Saat di pertigaan arah SD Kedungmiri sudah disambut plang petunjuk air terjun berwarna kuning. ikuti saja. SD kedungmiri terus saja, nanti dipojok jalan ada pos ronda dan juga ada plang jalan yang terlihat dari jalan. Air terjun Watulawang ini terletak di Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri. Secara koordinat GPS, lokasi air terjun ini berada di  7°56'29.4"S 110°25'05.6"E .
penunjuk kuning, ikuti saja alurnya hehe
end point, setelah itu harus jalan kaki
Sampai diakhir rumah tersebut sepeda harus dititipkan, setelah itu jalan kaki menembus pegunungan. Kurang lebih 500 meter jalan sudah sampai ke dasar air terjun. Nama air terjunnya apa ya?malah lupa belum kesebut?hehe. Lhawong nama air terjun pun baru kami tahu ketika sudah berada didasar air terjun, karena di plang jalan kuning tadi tidak terdapat nama air terjun.
Plang yang masih baru, dibuat oleh Hima salah satu kampus di jogja
Jalan berundak menuju lokasi
Aksesnya lumayan cukup licin dan berundak, ya wajar saja karena membelah hutan, apalagi kalau malamnya hujan, harus hati-hati. Sampai didasar air terjun yang tingginya kurang lebih 20 meter tersebut, seolah kami tidak percaya. "Ketoke dudu iki deh son, kok bedo yo". Sambil eyel-eyelan, kami pasrah saja seolah menerima rasa penasaran yang semula menghinggapi kami. Menurut Tulisan yang ada di sekitar air terjun, asal mula penamaan Watulawang dikarenakan air terjun tersebut menempel kokoh pada batu alam dibelakangnya yang berada di gunung watulawang.
Aliran anak sungai yang mengalir dibawah gunung
Sekilas info mengenai air terjun Watulawang
Inilah air terjun Watulawang
Debit yang cukup, dengan air yang agak keruh
Waktu perjalanan turun, ketemu dengan simbah-simbah yang mencari kayu bakar, sempat bertanya apa cuma grojogan itu saja. ternyata beliau menjawab "nggih namung niku mawon grojogan inkang kerep dituweni mas" (ya cuma itu saja air terjun yang kerap dikunjungi mas). Ya wes, oke..hehe
Tujuan sebenarnya adalah ke jembatan Selopamioro
Keramaian sekitar jembatan, berbeda dengan waktu pertama kali dikunjungi
Sedang transaksi batu akik
Saat perjalanan pulang, mencoba mengambil gambar ke salah satu lapak penjual batu akik, dengan sedikit basa-basi meminta ijin memoto lapak tersebut. Respon pemilik lapak sih malah seneng, bapaknya bilang "Difotoke mas, terus di internet yo? (Difoto ya mas, terus masukan di internet). Ya pak...lha ini sudah masuk internet pak hehe..
Salah satu lapak yang berada di pinggir jalan akses ke jembatan selopamioro
Tersusun rapi dengan jenis masing-masing

27 April 2015

Grojogan Kedung Tolok yang Bertingkat di Siluk

Setelah tertunda seminggu, akhirnya kesampaian juga bermain air di Kedung Tolok Siluk. Minggu, 26 April 2015 bersama Bestson gowes pagi plus refreshing bakal terlaksana. Belakangan ini, hanya kami berdua kalau bersepeda, si immas waktunya jarang bisa pas selo nya. Meet point di perempatan jejeran, pukul 6:30 bestson sudah standby disana, berbeda 15 menit dari keterlambatan saya, hehe.
Grojogan Kedung Tolok tempat bermain yang asik bagi anak-anak
Kedung Tolok berlokasi di Padukuhan Kajor Kulon. Akses ke lokasi dapat ditempuh melalui jalan imogiri timur ( Terminal Giwangan) keselatan sampai di jembatan siluk ambil yang arah kiri (arah jembatan selopamioro) kalau arah kanan rute by pass ke pantai parangtritis. Sampai di pertigaan tadi, terus saja, nanti akan melewati SD Siluk. Kalau melewati SD Siluk pelankan kecepatan kendaraan anda, karena setelah SD tadi ada persimpangan. Di persimpangan kecil/ masuk gang arah kanan, sudah terdapat plakatnya kok. Tinggal ikuti jalannya saja. Secara koordinat GPS, Kedung Talok berada di 7°57'48.0"S 110°23'03.3"E .
Salah satu plang petunjuk jalan arah ke Kedung Talok
Sesampaninya di lokasi ternyata sudah ada rombongan gowes lainnya yang lebih dulu tiba. Berbacksound lagu dangdut koplo lokasi Kedung Tolok pun semakin siang semakin ramai. Terlihat beberapa penduduk mulai membuka warung untuk menjajakan minumam dan makanan.
Sebenarnya di Kedung Tolok ini tidak hanya ada satu saja, melainkan masih ada beberapa kedung lainnya. Nama kedungnya pun bermacam-macam. Kedung Tolok itu dipaling bawah, nah diatasnya berurutan masih terdapat beberapa kedung lainnya, seperti Kedung Cumplung, Kedung Gupet, Kedung Dowo dan Kedung Kempul.
Grojogan Kedung Tolok yang berada paling bawah
Kedung Cumplung
Kedung Gupet
Kedung Dowo
Kedung Kempul
Cocok sebagai tempat bersemedi hehe
Aliran debit air yang terdapat di Kedung Tolok
Lokasi Kedung Tolok ini mulai dipersiapkan oleh warga sekitar. Sewaktu sampai dilokasi, terlihat beberapa penduduk sedang menata batu supaya air tetap terbendung dan nyaman digunakan untuk bermain air. Selain itu, akses jalan ke Kedung yang lainnya juga sudah diberi petunjuk dan diberi pagar pengaman. Jikalau berbasah-basahan bermain air, apakah ada ruang ganti?Jangan khawatir, sudah disediakan ruang ganti kok, aman hehe.
Plang rambu-rambu dan pagar yang telah di dirikan warga
Warga sekitar yang membuka warung
Toilet dan kamar ganti
Sekian, semoga Kedung Tolok tetap nyaman dikunjungi, tetap terjaga kebersihannya, sampai jumpa di petualangan selanjutnya. Saat pulang dan menuju jembatan Selopamioro, ada hal yang menarik untuk dikunjungi, ternyata ada plang penunjuk jalan kearah air terjun, kelihatannya air terjun tersebut baru dibuka belum lama.
Secuil petunjuk 
Penasaran?simak artikel selanjutnya di Malah Ketemu Air Terjun Watulawang..
Ritual yang harus ada hehe

13 February 2015

Ada Bendungan Muncen dan Air terjun di Jolosutro

Setelah grojogan / air terjun toundo marak dikunjungi, Piyungan seolah menjadi tujuan wisata dadakan dalam kurun waktu akhir-akhir ini, terlebih seperti dimusim penghujan awal tahun 2015. Siapa sangka aliran grojogan yang sedianya digunakan untuk irigasi tersebut beralih menjadi tempat obyek wisata. Sebagian didaerah Piyungan merupakan pegunungan, hampir di tiga desa/keluruhan terjatah daerah yang terletak di pegunungan. Seperti halnya di Dusun Jolosutro, Dusun yang berada diselatan piyungan kota ini berada dibawah pegunungan.
Jolosutro, siapa tak tahu tentang daerah ini. Jolosutro setiap tahunnya mengadakan tradisi kupatan Jolusutro. Tradisi yang masih dipegang erat oleh warganya. Kalau bertepatan dengan acara ini, kita akan menemui warga yang lalu lalang mempersiapkan acara dari lapangan depan SD Jolustro sampai dengan ke petilasan makam sunan Geseng yang berada didaerah dataran tinggi Dusun Jolosutro. Letak Dusun Jolosutro dapat diakses melalui jalan wonosari, sebelah selatan SMP 1 Piyungan.
Tagline baru, Piyungan kawasan Indsutri, sebelum memasuki daerah Jolosutro
Hal lain yang bisa di temui di Dusun Jolosutro adalah keindahan alamnya. Ada satu spot yang menarik untuk di eksplore lebih jauh, yaitu bendungan/kedung Muncen. Namanya seperti klub bola, tapi ya memang seperti itu namanya. Ketika tanya pemuda setempat malah menyebutnya Allianz Arena yaitu kandang dari Muncen atau Bayern Munchen klub sepak bola eropa tersebut.
Menjadi tempat bermain yang asik
Lompat...byur
Kolam renang alami, namun grojogan tak ada airnya
Kedung Muncen merupakan aliran sungai yang dibendung untuk keperluan irigasi pertanian. Bendungan yang dibangun kurang lebih 8 tahun silam ini kini menjadi tempat bermain bagi anak-anak dan pemuda setempat. Kedalaman kurang lebih sekitar 2-4 meter seolah menjadi kolam renang alami untuk bermain air. Di pojok kedung ini terdapat air terjun/grojogan yang kalau ada airnya langsung jatuh ke kedung tersebut. Ketinggian grojogan tersebut kurang lebih 15 meter dengan tingkatan/berundak. Grojogan ini sifatnya hanya musiman, kalau hujan lebat ya ada air yang mengalir, tapi kalau tidak turun hujan, debit air yang mengalir di grojogan tersebut menyusut. Tapi jangan khawatir, meskipun tidak turun hujan, kedung atau bendungan tersebut tetap ada airnya, karena kedung tersebut dialiri dari 2 anak sungai.
Pertemuan kedua, setelah hari sebelumnya hujan, namun tidak begitu deras
debit air yang tidak begitu deras
Aliran bawah bendungan
Awalnya hanya iseng, sekedar bertanya dengan teman SMP yaitu Titis atau nama keren sewaktu SMA adalah Kemproh yang notabene berdomisili di Jolosutro. Sepulang dari takziah guru SMP, kami mencoba mencari tahu keberadaan kedung muncen tersebut. Tapi yo ndak dicari nding, lha wong tempat itu merupakan tempat bermainnya kemproh sewaktu kecil. Setibanya disana, terlihat banyak anak-anak dan para pemuda sedang bermain air. Ketika tanya dengan salah satu pemuda yang ada disana yang juga teman kemproh, kami malah diajak mengunjungi beberapa Grojogan tersembunyi di daerah Jolosutro lainnya. Tempatnya agak masuk ke hutan, sehingga rutenya cukup menantang.
Kalau tidak ketutupan kabut, dari sini bisa melihat merapi dengan jelas
Total ada 4 Grojogan yang kami temui didalam hutan, hanya saja saat itu beberapa hari tidak turun hujan, sehingga ada beberapa grojogan debit airnya sedikit. Grojogan tersebut pun memiliki sebutan nama beda-beda, tetapi saya lupa namanya hehe. Akhirnya pada hari selasa 10 Februari 2015 bersama kemproh mengulangi lagi perjalanan mencari grojogan di Jolosutro tersebut. Dimulai dari kedung muncen, terlihat ada sedikit air yang mengalir di sudut bendungan tersebut. Kemudian kami melanjutkan perjalanan, sekitar 200 meter dari bendungan tersebut, kami masuk hutan dan menghampiri beberapa grojogan yang pernah kami datangi.
Grojogan selanjutnya, kalau ini belum begitu masuk hutan
Aliran Grojogan disela-sela bebatuan, seperti patahan batuan
Entah asal-usulnya seperti apa, bebatuan ini cekung dan menjadi aliran air
Grojogan berbeda jalur dengan air di batuan cekung tadi
Grojogan Teratas namun debitnya tak sederas ketika beberapa hari hujan
Menarik menjelajahi piyungan, masih banyak lagi spot-spot tersembunyi untuk di nikmati selama itu tidak merusak ekosistem alam. Mari Kunjungi Piyungan :)

17 January 2015

Banyunibo Tritis di Sekitar Candi Banyunibo

Memasuki musim penghujan di awal tahun menjadikan beberapa banyunibo atau air terjun kini semakin deras debitnya. Air terjun yang sifatnya musiman cocok kita datangi di musim penghujan belakangan ini seperti air terjun toundo dan air terjun di daerah Nglingseng yang belum lama ini saya kunjungi.
Tujuan mencari grojogan atau air terjun tersembunyi berikutnya adalah di daerah prambanan. Nama Air terjunnya adalah Tritis. Letaknya di daerah Cepit, Madurejo, Prambanan, Sleman yaitu di timur candi Banyunibo. Banyunibo lebih familiar diperuntukan untuk nama air terjun, tapi kok ya malah nama candi. Apa mungkin nama tersebut berasal dari curug banyunibo yang berada disekitarnya?
Minggu, 11 Januari 2014 bersama “PAGOB” atau Piyungan satu Gowes Blusukan #07 mencoba mencari keberadaaan air terjun tersebut. Piyungan satu merupakan almamater Sekolah SMP kami, yaitu SMP 1 Piyungan, sedangkan #07 adalah angkatan kami lulus. Spot tersembunyi ini kami tahu dari teman kami juga, yaitu mbak vivi sama-sama pengiat sepeda yang kebetulan juga rumahnya tak jauh dari situ. Berawal dari posting foto di group wasap, akhirnya pada hari minggu tersebut kesampaian juga Pagob edisi kedua terlaksana. Titik pertemuan adalah di perempatan Jlatren, berubah dari rencana awalnya yang mau ketemuan di SMP bagi trah selatan. Ketiga orang orang tersebut adalah adalah IlyasSidik dan Ninda.
Akses ke Candi Banyunibo melewati jalan Piyungan-Prambanan, nah dari pintu masuk Ratu Boko masih ke selatan nanti nemu pertigaan. Jalur terbut bisa juga menuju pintu masuk dari belakang kawasan Ratu Boko. Kalau sudah menemui Gapura hijau seperti foto dibawah ambil kanan (ada plakat penunjuk jalan).
Gapura selamat datang di Dusun Cepit
Candi Banyunibo
Ujung pertigaan masuk gapura Dusun Cepit
Jembatan ini belok kanan, masuk "mbulak tebu"
Menemui adek-adek yang mancing di bawah jembatan
Bagi saya sepedaan minggu pagi tersebut seperti ra due kesel, lha di hari sabtunya saja sudah sepedaan ke curug nglingseng sampai kesasaran ke hutan pinus dlingo juga. Berbekal ancer-ancer, kami berempat sampai pada di dasar air terjun. Nah untuk menuju ke air terjun tritis, dari gapura Candi Banyunibo tersebut lurus saja, nanti akan menemui pertigaan lapangan Voli, di pertigaan tersebut ambil kanan. Di ujung jalan yang letaknya pinggir lapangan voli ini sudah ada plang penunjuk jalannya kok, ikuti palng saja nanti akan berujung pada jembatan. Di ujung jembatan ambil arah kanan masuk "mbulak tebu" atau kebun tebu, ikuti jalan setapak. Ditengah mbulak tebu nanti akan menemui jalan persimpangan, ambil yang arah kiri, pokoknya ikuti saja sungai di pinggir mbulak tebu tersebut maka akan berujung pada tempat dimana kami menaruh sepeda. Nah dari tempat tersebut sudah terdengar gemuruh air, sekitar 20 meter jalan kaki, akhirnya sampai pada dasar air terjun.
Mentok sampai disini bisa dikayuh, selebihnya digotong kalau mau sampai di dasar air terjun
Harus melewati bebatuan yang licin untuk sampai di air terjun seberang yang sudah kelihatan
Air terjun Tritis dibalik bebatuan Dusun Cepit
Harus mbopong sepeda jikalau ingin dipajang seperti ini
Dari jelajah dua tempat yang telah dikunjungi dalam dua hari ada hal yang kurang pas saat saya mengunjungi tempat tersebut yaitu debit air yang jatuh baik di curug Nglingseng dan curug Tritis kurang deras. Perlu diketahui kedua curug tersebut didatangi ketika beberapa hari tidak hujan melainkan cuaca beberapa hari sebelum didatangi adalah cerah berawan.

Copyright © #ndesolicious | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com