“ditepian kota itu (p)enak”

Showing posts with label Ngonthelicious. Show all posts
Showing posts with label Ngonthelicious. Show all posts

20 March 2015

Terbang Bersepeda di Landasan Pantai Depok dan Paralayang

Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Seperti itu mungkin pepatah yang terjadi pada petualangan bersepeda minggu pagi di tanggal 1 Maret 2015. Bukan mendayung, tapi sekali kayuh dua tiga tempat tersinggahi. Ini merupakan petualangan bersepeda yang paling parah, membuat palung pernafasan terengah-engah. Tujuannya adalah sederhana, sesederhana tempatnya yaitu landasan take off paralayang Parangendog. Kelihatannya kalau dirasakan cuma sebelah timurnya parangtritis yang terkenal dengan daerah teritorial Kabupaten Bantul, tapi ternyata tempat tersebut telah memasuki kawasan Kabupaten Gunungkidul.
Kayuhan pertama, tujuan landasan pacu pantai depok yang terkenal dengan jalan lurus nan mulusnya. Kalau tempat ini sih agak masuk akal kalau didatangi dengan bersepeda. Hanya berdua saja, bersama Bestson pertualangan kurang gawean ini kami mulai dititik pertemuan perempatan jejeran pada jam 6.30 pagi. Pemilihan rute yang lenggang membuat kami memilih rute Siluk dibandingkan jalan Paris. Rute Siluk itu asik, ada tanjakan dan turunannya, nggak hanya jalan datar saja seperti jalan Parangtritis. Eh nggak nding, itu pernyataan yang menghibur diri sendiri, kalau boleh jujur sih rute Siluk ini agak berat. Perjalanan melewati rute Siluk awalnya terasa ringan, hanya beberapa tanjakan saja, yang bikin berat adalah kondisi perut yang belum sarapan.
Sekitar pukul 8.30 pagi kami sudah berada di bibir masuk TPR parangtritis. Berpapasan dengan beberapa pengiat sepeda lainnya yang ternyata telah melawan arah dari arah kami berdua, atau lebih tepatnya saat kami baru datang, mereka sudah mulai pulang meninggalkan pantai yang sudah menghirup udara pantai sedari pagi. Akhirnya ketemu warung juga di sekitar TPR masuk, padahal kami sudah mencari warung makan sejak dijalur rute Siluk.
Setelah dirasa cukup, kami mulai kayuhan dengan penuh semangat karena kondisi perut yang sudah kuat. Sekitar pukul 9 pagi kami telah sampai di landasasan pesawat Pantai Depok. Kondisi pagi itu sudah ada beberapa pesawat yang mulai menghiasai landasan pacu tersebut. Sampai sampai hanya untuk berfoto di landasan pacu saja kami harus menunggu pesawat semuanya landing terlebih dahulu. Hanya diberi sekitar 15 menit saja para pengunjung untuk leluasa menginjak di landasan pacu pagi itu.
lalu lalang pesawat yang landing
beberapa pesawat yang mengudara
akhirnya bisa merasakan mulusnya landasan pacu
Kayuhan untuk landasan pantai depok tersinggahi juga, tujuan selanjutnya adalah ke landasan take off paralayang. Rencana ini kalau dipikir kurang gawean, membawa sepeda ke area landasan, sedangkan pengunjung yang lainnya untuk dapat ke tempat ini saja sudah rekoso dengan kondisi menggunakan sepeda motor. Lokasinya adalah dari Pantai Parangtritis ke timur, sampai menemui pertigaan ambil yang arah naik/arah hotel queen south resort. Ikuti saja plang penunjuk resort tersebut, nanti di petunjuk plang terakhir resort ambil yang arah lurus terus kurang lebih 1 kilometer lagi.
plang petunjuk "Take off Paralayang" berwarna biru
Ketika sedang mengistirahatkan kaki, kami melihat parit atau yang biasa disebut kalen bagi warga sekitar mengalir air yang jernih. Setelah tanya warga sekitar air yang mengalir tersebut berasal dari Sendang Beji yang berada kampung tersebut. Tujuan tersebut menjadi tujuan berikutnya setelah landasan take off paralayang. Yang terpenting adalah harus bisa finish sampai di landasan paralayang itu dulu. Meskipun harus dengan nuntun sepeda. 2 tanjakan sisa dari tempat kami beristirahat adalah tanjakan yang "ngaluk-ngaluk" atau bahasanya tanjakannya lumayan tinggi. Meskipun tinggi tapi pantang pulang, lha tinggal sak kayuhan lagi sudah sampai kok hehe..
Aliran air parit dari Sendang Beji
Nah sekitar pukul 11.30, tepat saat matahari berada di ujung atas ubun-ubun yang begitu menyengat kami tiba diparkiran paralayang tersebut. Kalau tadi nuntun sepeda, saatnya beralih ke gendong sepeda untuk dapat sampai di pelataran take off paralayang. Bisa dibayangkan kok apa yang para pengunjung lainnya katakan dalam hati, kalau boleh menebak pasti bilang "kurang gawean mas sampe ngendong sepeda ke sini, naiknya tanjakannya saja sudah rekoso, ee ini panas-panas malah nyepeda sampai sini".
belum di puncak landasan
menunggu saat yang tepat untuk memfoto sepeda
Ra masalah hehe, sudah sering dikatakan seperti itu, ya mung pengen mencoba yang berbeda saja kok, merasakan gimana rasanya. Terkadang kata "kurang gawean" itu identik di ucapkan bagi hal-hal dirasa kurang nalar yang membuat kita merasakan sensasinya tersendiri.
kurang komplit, biasanya bertiga kalau nyepeda
dan bestson pun menjadi tukang foto pasangan yang sedang berpiknik
Setelah dirasa semakin panas dan cukup, akhirnya kami mulai turun landasan paralayang tersebut. Tujuannya adalah mencari sendang beji yang tadi menjadi penasaran kami. Lokasinya adalah di pertigaan sebelum tanjakan terakhir kalau mau ke paralayang. Sendang Beji ini merupakan tempat petilasan yang biasanya ramai dikunjungi saat bulan suro atau bulan muharram. Apa saja yang ada di sendang beji ini?tunggu artikel selanjtunya..hehe
Petilasan Sendang Beji
Sekitar pukul 2 siang kami beranjak dari Sendang Beji yang ternyata sudah berada di Pedukuhan Parangrejo, Kelurahan Girijati, Kecamatan Purwosari Kabupaten Gunungkidul. Benar saja ini menjadi perjalanan terparah kami dalam bersepeda. Biasanya sekitar pukul 3 sore kami sudah berada di rumah, namun untuk episode kali ini, kami baru sampai rumah sekitar pukul 5 sore, sedangkan bestson yang ngekos didaerah gejayan sampai dikosnya sekitar pukul 7 malam.Selain kondisi tubuh yang mulai lemas, kami pun juga sempat merasakan kehujanan di daerah imogiri. Ekspedisi yang lengkap. Jangan takut untuk dikatakan "kurang gawean" orang lain hehe

5 February 2015

Jembatan Gantung Baru Pleret di Pagi Hari

Belakangan ini kebiasasan piknik ataupun blusukan seolah menjadi trend yang kekinian. Hiruk pikuk tempat-tempat yang view-nya keren menjadi daya tarik tersendiri untuk menyinggahi, bahkan hanya sekedar untuk berfoto dan menguploadnya di jejaring sosial. Mungkin jika kebiasaan seperti ini terjadi di generasi berikutnya, tempat piknik sudah bukanlah menjadi tempat piknik yang sedianya dapat melepas penat dengan bersua dengan alam, tapi manusia sebagai obyek di tempat piknik tersebut.
Jembatan gantung baru di daerah Gunung Kelir kecamatan Pleret Bantul yang menghubungkan dengan desa Bawuran adalah salah satu contoh tempat yang belakangan ini sedang naik daun. Jembatan baru ini terlihat kokoh membentang diatas sungai kini menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmat piknik.
Jembatan yang menghubungkan daerah gunung kelir dengan bawuran
Jikalau ingin mencoba menyinggahi jembatan yang lagi anget-angetnya ini, dapat melewati Jalan Imogiri timur, sampai diperempatan jejeran belok kiri. Pedomannya adalah mencari Pasar Pleret kemudian SMA N 1 Pleret. Perempatan pasar Pleret ambil yang arah timur atau SMA N 1 Pleret. Dari SMA N 1 Pleret tadi, lurus ke timur saja, nanti sampai menemui gapura Dusun Gunung Kelir. Nah jika sudah dibibir masuk Dusun Gunung Kelir, belok kanan melewati jalan gang pinggir sawah. Setelah menyusuri jalan pinggiran sawah, nanti akan ada pertigaan, di pertigaan tadi belok kiri. jembatannya sudah kelihatan. Secara koordinat jembatan ini berada di 7°52'19.1"S 110°24'46.2"E .
Perjalanan masih di selimuti kabut dengan pemandangan gunung Merapi
Secara teritorial lokasi jembatan ini adalah di selatan pedesaan domisili saya (kurang lebih berjarak 5 Km). Hari Rabu pagi 4 Februari 2015, bersepedaan pagi dan sendirian pula ingin menjawab penasaran jembatan tersebut. Soalnya dulu pernah sepedaan di daerah Gunung Kelir tetapi justru tak menemukan jalan tembusan ke desa berikutnya karena buntu. Mungsuh paling berat sepedaan itu adalah ada tidaknya teman, kata mas wijna di blognya mblusuk.com .
Perjalanan kurang-lebih 15 menitan dari rumah, berangkat sekitar pukul 5.30 pagi, menembus dinginnya udara pagi dengan menyusuri pinggiran sawah. Menemukan jembatan ini ternyata harus pakai kesasar dulu, awalnya mbuntuti bapak-bapak yang nyepeda lengkap dengan peralatannya sawahnya kemudian tanya, ee tetap saja kesasar. Akhirnya tanya yang kedua kalinya, saya sampai di jembatan tersebut. 
"lenggang"
Menemui adik-adik yang sedang berangkat sekolah
Masih cukup lengang keadaan jembatan tersebut, mataharipun masih malu untuk menampakkan, hanya sesekali warga yang lewat jembatan yang ingin memulai untuk beraktivitas. 

17 January 2015

Banyunibo Tritis di Sekitar Candi Banyunibo

Memasuki musim penghujan di awal tahun menjadikan beberapa banyunibo atau air terjun kini semakin deras debitnya. Air terjun yang sifatnya musiman cocok kita datangi di musim penghujan belakangan ini seperti air terjun toundo dan air terjun di daerah Nglingseng yang belum lama ini saya kunjungi.
Tujuan mencari grojogan atau air terjun tersembunyi berikutnya adalah di daerah prambanan. Nama Air terjunnya adalah Tritis. Letaknya di daerah Cepit, Madurejo, Prambanan, Sleman yaitu di timur candi Banyunibo. Banyunibo lebih familiar diperuntukan untuk nama air terjun, tapi kok ya malah nama candi. Apa mungkin nama tersebut berasal dari curug banyunibo yang berada disekitarnya?
Minggu, 11 Januari 2014 bersama “PAGOB” atau Piyungan satu Gowes Blusukan #07 mencoba mencari keberadaaan air terjun tersebut. Piyungan satu merupakan almamater Sekolah SMP kami, yaitu SMP 1 Piyungan, sedangkan #07 adalah angkatan kami lulus. Spot tersembunyi ini kami tahu dari teman kami juga, yaitu mbak vivi sama-sama pengiat sepeda yang kebetulan juga rumahnya tak jauh dari situ. Berawal dari posting foto di group wasap, akhirnya pada hari minggu tersebut kesampaian juga Pagob edisi kedua terlaksana. Titik pertemuan adalah di perempatan Jlatren, berubah dari rencana awalnya yang mau ketemuan di SMP bagi trah selatan. Ketiga orang orang tersebut adalah adalah IlyasSidik dan Ninda.
Akses ke Candi Banyunibo melewati jalan Piyungan-Prambanan, nah dari pintu masuk Ratu Boko masih ke selatan nanti nemu pertigaan. Jalur terbut bisa juga menuju pintu masuk dari belakang kawasan Ratu Boko. Kalau sudah menemui Gapura hijau seperti foto dibawah ambil kanan (ada plakat penunjuk jalan).
Gapura selamat datang di Dusun Cepit
Candi Banyunibo
Ujung pertigaan masuk gapura Dusun Cepit
Jembatan ini belok kanan, masuk "mbulak tebu"
Menemui adek-adek yang mancing di bawah jembatan
Bagi saya sepedaan minggu pagi tersebut seperti ra due kesel, lha di hari sabtunya saja sudah sepedaan ke curug nglingseng sampai kesasaran ke hutan pinus dlingo juga. Berbekal ancer-ancer, kami berempat sampai pada di dasar air terjun. Nah untuk menuju ke air terjun tritis, dari gapura Candi Banyunibo tersebut lurus saja, nanti akan menemui pertigaan lapangan Voli, di pertigaan tersebut ambil kanan. Di ujung jalan yang letaknya pinggir lapangan voli ini sudah ada plang penunjuk jalannya kok, ikuti palng saja nanti akan berujung pada jembatan. Di ujung jembatan ambil arah kanan masuk "mbulak tebu" atau kebun tebu, ikuti jalan setapak. Ditengah mbulak tebu nanti akan menemui jalan persimpangan, ambil yang arah kiri, pokoknya ikuti saja sungai di pinggir mbulak tebu tersebut maka akan berujung pada tempat dimana kami menaruh sepeda. Nah dari tempat tersebut sudah terdengar gemuruh air, sekitar 20 meter jalan kaki, akhirnya sampai pada dasar air terjun.
Mentok sampai disini bisa dikayuh, selebihnya digotong kalau mau sampai di dasar air terjun
Harus melewati bebatuan yang licin untuk sampai di air terjun seberang yang sudah kelihatan
Air terjun Tritis dibalik bebatuan Dusun Cepit
Harus mbopong sepeda jikalau ingin dipajang seperti ini
Dari jelajah dua tempat yang telah dikunjungi dalam dua hari ada hal yang kurang pas saat saya mengunjungi tempat tersebut yaitu debit air yang jatuh baik di curug Nglingseng dan curug Tritis kurang deras. Perlu diketahui kedua curug tersebut didatangi ketika beberapa hari tidak hujan melainkan cuaca beberapa hari sebelum didatangi adalah cerah berawan.

15 January 2015

Diantara Bebatuan Air Terjun Nglingseng Imogiri

Musim penghujan yang telah tiba layaknya menjadi obat yang ditunggu-tunggu sebagian orang yang doyan berpetualang mencari grojogan banyu tibo atau air terjun. Seperti contoh air terjun atau curug Tuondo yang berada tak jauh dari tempat tinggal saya kini mulai ramai di datangi oleh wisatawan. Warga dan pemuda sekitar Air terjun Toundo atau Watu ondo kini mulai mempersiapkan tempat untuk menjamu para tamu, terlihat yang sudah di pasangi banner penunjuk jalan, padahal sewaktu saya mengunjungi tempat tersebut belum ada petunjuk satu pun.
Air terjun musiman lainnya adalah air terjun di daerah Nglinseng Imogiri. Berbekal dari informasi akun @zamzammumtaz di instagram, Sabtu 10 Januari bersama immas dan bestson kurang kerjaan mancal sepeda ke air terjun tersebut akan dimulai. Dari akun tersebut diarahkan untuk lewat jalan imogiri timur, melewati SMA Negeri 1 Imogiri ke timur dan sampai menemui patung petruk belok kanan. Awalnya ada beberapa destinasi yang ingin di datangi, tapi akhirnya memilih destinasi ini karena jika melihat informasi tersebut bayangan jalan yang dilalui tidak begitu menanjak. Destinasi ini di pilih juga melihat keadaan immas, dia lagi dilanda masuk angin, hehe (ternyata terulang lagi, masuk angin tapi tetap nyepeda setelah dulu pernah masuk angin juga sewaktu nyepeda ke embung nglanggeran).
Tak sederas saat musim penghujan
Air terjun Nglinseng ini berada pada koordinat 7°54'55.4"S 110°25'48.7"E. Rute untuk ke air terjun Nglingseng Imogiri ini setelah melewati patung petruk dan belok kanan, terus saja nanti akan melewati tanjakan demi tanjakan. Awalnya sih tidak begitu berat, tapi kok tanjakannya nggak habis-habis. Air Terjun ini, kalau tanya warga jawabannya banyu nibo, karena Nglinseng itu merupakan nama daerahnya. Ikuti jalan aspal saja, patokannya adalah rumah di kiri jalan yang menanjak, dan di kanan jalan ada tumpukan kayu. Nah masuk jalan gang tepat di bawah rumah tersebut.
Sanggar Wayang "Sabar" akan di temui setelah ambil kanan di patung petruk
Ikuti saja jalan tersebut, nanti akan sampai pada rumah seperti foto dibawah ini, titipkan saja sepeda anda di rumah tersebut. Untuk ke lokasi air terjun, melewati jalan setapak di samping rumah warga tersebut. Lumayan dekat dengan rumah tadi, ikuti saja paralon yang menyusuri jalan setapak, nanti akan sampai pada air terjun. Nampaknya perjalanan berat tak sepadan dengan air terjun yang didapat, karena debit air terjun yang kecil.
Ujung jalan adalah rumah ini, tempat nitip sepeda
Aliran air tingkat bawah
Inilah air terjun banyunibo Nglinseng Imogiri yang dimaksud
Debitnya saja yang kecil, orangnya besar haha
Selama perjalanan, akan menjumpai pemandangan yang menawan. Selain pemandangan, juga ada grojogan air yang lumayan deras menyusuri bebatuan tak jauh dari gang setelah masuk tadi.
Pemandangan yang tersaji begitu menawan
Grojogan di pinggir jalan
Setelah dirasa cukup, kemudian melanjutkan perjalanan, menurut warga sekitar jika di persimpangan tadi lurus terus akan sampai Pleret. Setelah melewati jalan demi jalan dan tanjakan, sampai pada perempatan, setelah tanya warga di perempatan ini kalau lurus nanti akan sampai pathuk/wonosari, kalau ambil kiri akan lewat Pathuk-Dlingo-Pleret rute Cino mati dan kalau ambil kanan akan melewati Imogiri. Ohhh..ternyata yang dimaksud Pleret itu rute cino mati, semakin bingung harus memlih yang mana, antar rute yang paling singkat karena perut sudah tak bersahabat.
Ketika perjalanan pulang pun harus disuguhi seperti ini
Masih Tanjakan yagn dihadapi
Tapi juga menemui yang seperti ini hehe
Akhirnya memberanikan diri menuruni cino mati, tanjakan yang mak jegagik. Kalau kemarin sudah merasakan nuntun di cino mati saat mau ke pinus Dlingo, saatnya merasakan menuruni tanjakan cino mati hehe.. Nah di tengah perjalanan pulang mampir dulu di pinus sekitar bukit mbecici yang sekarang juga lagi ngehits, spot baru untuk melihat keindahan alam dari dataran tinggi.
Seolah di eropa kalau kata bestson
Meskipun menuruni cino mati, tapi juga dituntun, hehe terlalu ekstrem. Takutnya diskbrake terlalu panas, ditengah tanjakan yang curam akhirnya dituntun juga, padahal juga turunan kok dituntun hehe
Setelah sampai Wonolelo, dilanjutkan mencari Soto karena perut sedari pagi yang belum di isi dan sudah tak bersahabat.  Akhirnya rehat nyoto di Pleret, utara kantor Pos Pleret, dari tempat ini kami melanjutkan perjalanan ke utara, untuk kembali ke tempat masing-masing.

15 December 2014

Jurug Tamansari atau Lengkongsari?

Musim penghujan sudah datang, hal yang ditunggu-tunggu adalah mencoret beberapa list curug yang akan disinggahi yaitu salah satunya curug tamansari / lengkongsari. Curug atau air terjun atau orang jawa biasanya menyebut Jurug tersebut berada di daerah Semoyo, Pathuk Gunungkidul. Sebenarnya rencana untuk menyinggahi air terjun ini sudah lama, namun berhubung musim kemarau panjang akhirnya ditunda dulu sampai musim penghujan tiba, lha nanti ndak kecelik kalau ndak ada airnya, hehe. Apalagi ketika bersepeda ke hutan pinus Dlingo, karena pulangnya lewat Pathuk jadi pengen mampir, tapi yo malah kelupaan.
Tujuannya adalah Jurug Tamansari/Lengkongsari ini
Awalnya rembugan bareng immas dan bestson mau mancal hari Sabtu, 13 Desember, namun ternyata bestson ada kuliah praktik. Akhirnya Minggu, 14 Desember 2014 bersama kedua kolega dan tambah pemain debutan yaitu si basir perjalan menaiki jogja lantai dua itu telaksana. Basir, orang banyumas yang baru pertama kali ikut sepedaan seolah-olah dihajar oleh medan jalan. Berbekal waton wani berangkat naik motor dari kosnya dan berganti naik sepeda setelah sampai dirumahku (intine nyilih sepeda, hehe). 
Nah ini mereka, aktor sepedaan kali ini
Pukul 7 lebih, immas dan bestson telah menunggu disekitar Puskesmas Piyungan. Dari tempat ini kami mulai mengayuh sepeda menyusuri jalan wonosari sampai ke perempatan Polsek Pathuk. Bisa dibayangkan, ini kali pertama basir sepedaan dengan rute jalan naik medan seperti itu, alhasil kami harus beberapa kali legowo ngenteni si orang Banyumas tersebut.
nuntun sepeda ditanjakan itu manusiawi kok hehe
Spot foto yang baru ngehits, kurang pas nek nggak mampir dulu untuk foto
Setelah sampai di perempatan Pathuk, arahkan perjalanan anda ke arah Pathuk/perempatan ambil kanan. Sampai pada pertigaan, sudah ada plang/petunjuk jalan yang akan menyambut anda. Nah di pertigaan tersebut lurus saja, sampai anda akan menemui perempatan. Di perempatan ini silahkan lurus saja. Jangan heran kalau jalan yang akan dilewati berupa turunan dan tanjakan, bagi pengendara motor sih penak, tapi bagi pesepeda?luwih penak (kalau dapat turunan, kalau tanjakan ya hiyungalah, hehe).
Pertigaan setelah perempatan pathuk, lurus saja (plang penunjuk jalan berada di bawah pohon)
Lurus saja jika sampai di perempatan ini
Setelah perempatan tersebut, nanti akan menemui pertigaan, nah dipertigaan ambil kanan. Tenang saja, lagi lagi sudah ada petunjuk jalan kok, yang cermat yaa. Setelah pertigaan tadi, tinggal ngikuti jalan saja, dan akan sampai pada gapura selamat datang di obyek wisata.
Pertigaan ini silahkan ambil kanan (petunjuk jalan ada di depan warung)
Gapura selamat datang di Jurug Tamansari
Menemui rombongan bapak-bapak kuat didepan gapura, cen ampuh pak hehe
Setelah masuk gapura, jalanan yang akan dihadapi adalah berupa jalan cor blok. Harap hati-hati jalan licin, karena kontur tanah di lokasi sekitar berupa tanah liat merah. Retribusi untuk masuk di lokasi wisata ini adalah 3 ribu rupiah untuk satu orang, dan biaya parkir 2 ribu rupiah. Berhubung kami tak memakai kendaraan bermotor, kami hanya dimintai retribusi saja. Jalan cor blok hanya sampai di area parkir, untuk kelokasi jalan berupa tanah yang dibuat berundak.
Semacam TPR yang dibuat oleh warga setempat
Rasanya kurang sreg jikalau ke air terjun tidak mencegurkan juga sepeda kita. Dengan menggotong sepeda, kami bawa sepeda sampai dibawah air terjun.
"Hati-hati Jalan Terjal"
Jalan tanah berundak dimusim hujan itu semacam mlesetke kaki
Dengan segala jerih payah, akhirnya kami sampai dibawah. Dan inilah air terjunnya. Beberapa hari terkahir curah hujan yang tinggi menyebabkan warna airnya seperti milo berwarna coklat. Di lokasi ini, ada beberapa titik air terjun, yaitu curug tamansari, dan curug sumurup yang berada diatas air terjun tamansari.
Gazebo yang dibuat dengan berlatar belakang jurug tamansari
Berubah jadi mas-mas BMX, biasanya pake MTB, tapi tep ampuh Im, naik pathuk dengan BMX
Lokasinya cukup menyejukkan, karena ada beberapa gazebo yang didirikan dengan langsung berlatar belakang air terjun. Hanya beberapa anak-anak yang bermain di sekitar air terjun tersebut, kalau orang kekinian bilangnya syahdu, tapi tak tahu beberapa bulan kedepan kalau obyek ini sudah ramai.
Mungkin mereka tak bisa bermain seperti ini lagi kalau obyek ini sudah ramai

Jagongan nyambi bluetooth-an
kalau ini mbaknya lagi disuruh motoin masnya hehe
Lebih jelasnya, air terjun ini berlokasi di daerah semoyo, pathuk, Gunungkidul. Lokasi dengan koordinat 7°52'23.1"S 110°29'14.7"E ini bisa diakses melalui jalan wonosari, setelah perempatan pathuk/polsek pathuk ambil kanan, dan ikuti petunjuk yang tadi sudah dijelaskan.
dari kidsfun bablas naik sampai pathuk

Copyright © #ndesolicious | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com