“ditepian kota itu (p)enak”

29 September 2015

Hewan Kurban yang di Makeup

Lantunan takbir dari toa-toa masjid itu terasa berbeda. Walau terdengar sama seperti takbiran idul adha pada umumnya, namun ada rasa yang berbeda. Ya karena suara lantunan takbir idul adha 1436 H itu tidak terdengar dari toa masjid kampung halaman seperti sebelum-sebelumnya.
Masjid Lhokaman
Rentetan kegiatan Perayaan hari raya idul adha yang saya temui selama ini hanya penyembelihan hewan kurban setelah sholat ied saja. Ditempat tinggal baru ini, di Dusun Padang, Desa Lhokaman Kecamatan Meukek, saya menemukan ada tradisi yang berbeda. Berkunjung ke sanak saudara dan tetangga dihari raya idul adha dihari pertama adalah hal yang biasa, layaknya ketika perayaan idul fitri.
Setelah sholat ied, warga mengunjungi rumah satu sama lain. Hari sebelumnya, ibuk-ibuk sibuk mempersiapkan masakan khas ala aceh. Lemang, ketupat ketan beserta tape ketan merah,  dan lontong acehnya pun diusahakan ada dimeja makan. Kak Erna, contoh salah satu tetangga yang membuat lemang. Di belakang rumah, walau hujan gerimis tetap ulet membuat lemang. Bambu-bambu itu disusun berjajar rapi di samping nyala bara api. Ya memang bukan diatas api, melainkan hanya disamping api dengan tujuan terkena asapnya api saja supaya bambu tidak cepat terbakar.
Proses pembuatan lemang dibelakang rumah
Tak selamanya tape berpasangan dengan emping, Tape ketan merah dan ketupat ketan 
Tradisi yang unik saya temui adalah proses penyembelihan hewan kurban. Setelah hari pertama digunakan untuk silaturohmi, hari kedua proses penyembelihan hewan kurban itu dilaksanakan. Bagi mereka yang berkurban, datang dengan membawa satu sampai dua nampan berisi makanan dan perlengkapan perawatan tubuh. Makanan dan perlengkapan perawatan itu diperuntukan bagi hewan yang akan dikurbankan. Roti, nasi ketan, pisang, kemudian ada parfum, handbody, bedak, kaca rias dan lain-lain. Setelah ijab serah terima dari yang berkurban diserahkan kepada panitia, hewan kurban kemudian diterima tengku imam masjid atau sesepuh agama sekaligus juga sebagai imam masjid. Tengku imam yang kebetulan nama tengku di Desa Lhok Aman adalah Pak Imam, membacakan doa, kemudian memberi makanan dan memberi bedak, parfum, dengan memotong sedikit rambut hewan kurban, sambil memperlihatkan wajah hewan kurban ke kaca rias. Setelah selesai proses tersebut, kemudian baru digiring menuju ke tempat penyembelihan. Membentangkan kain putih dan payung menutupi badan hewan kurban.
Hewan kurban yang sedang di dandani oleh ketua lorong (Kepala Dusun) dan Tengku Imam
Prosesi penyembelihan dengan kain putih dan payung sebagai penutup hewan kurban
Timbul pertanyaan, apa maksud dari tradisi yang dilakukan. Saya bertanya kepada seorang warga yang kebetulan juga tokoh pemuda Dusun setempat. Maksud dari tradisi ini adalah sama seperti proses penguburan manusia. Sebelum dikubur, manusia dimandikan, diberi wangi-wangian. Pembentangan kain putih dan payungpun juga seperti itu maksudnya, sama seperti proses penguburan jenazah manusia ke liang lahat yang terakhir.
Bakar kepala hewan kurban cara tradisional
Kepala hewan yang telah dibakar, siap untuk dikuliti
Setelah proses penyembelihan dan distribusi hewan kurban selesai dilakukan, kemudian tradisi masak kepala hewan kurban. Kepala hewan kurban itu dibawa ke rumah Tuhapeut (tetua/ketua orang tua) untuk dimasak. Gotong royong bersama pemuda memasak kepala hewan kurban. Setelah siap disajikan, masakan tersebut dinikmati bersama tokoh kampung setempat. Semua bekerja sesuai dengan porsinya, ada yang memetik pohon kelapa, mencari kayu, memasak nasi dan membuat kopi. Tradisi masak kepala hewan kurban ini dilakukan semuanya oleh kaum pria.
Semua ada porsi kerjanya masing-masing, bagian "perwajanan"
Siap dihidangkan, sama rata sama rasa
Inilah Indonesia, indah dengan beragam tradisi dan budanyanya, kental dengan rasa gotong royong bersama. Berkunjung ke daerah baru, selamilah juga budayanya tidak hanya keindahan alamnya. Setiap daerah pasti punya cara, adat istiadat tersendiri, dan semua itu tidak bisa disamakan. Seperti pepatah jawa bilang "desa mawa cara, negara mawa tata", maka hargailah perbedaan.

26 September 2015

Kini Daerah Istimewa di Ujung Indonesia itu Menjadi Rumah Kedua

"Kawanku seperjuangan, tengoklah di Lanal Malang, Tempat sarjana dididik dan ditempa menjadi pendidik yang sejati, Lanal Malang.. Lanal Malang, tempat kenangan kami, Kami siap, kami sedia ditempatkan dimana saja"
Begitulah salah satu lirik dari sekian yel-yel yang selalu terdengar di Prakondisi SM3T (Sarjana Mendidik di daerah 3T) Universitas Negeri Malang. Kalau dibuatkan album, mungkin yel-yel selama prakondisi sudah cukup untuk di-release dalam bentuk kepingan vcd, mengingat jumlah yel-yel tidak sedikit, hehe.
Sragam yang baru dibagikan pun langsung buat pel lapangan ( Sumber : Panitia Prakondisi SM3T UM 2015)
Postingan ini dan beberapa postingan berikutnya mungkin akan out off the context tempat wisata seperti yang biasa saya tulis/review. Merantau untuk mengikuti program SM3T, dan melalui sebuah catatan ini akan saya sampaikan mungkin hanya beberapa dari sekian banyak pengalaman yang telah saya alami, berbagi informasi ditempat persinggahan, kota tempat tinggal kedua saya setelah rumah beserta keluarga yang saya tinggalkan demi keterpanggilan hati, hehe
Terhitung dari tanggal 2 Agustus sampai dengan 17 Agustus,  menjadi peserta mengikuti program prakondisi SM3T angkatan V di Lanal Malang.  Menjalani rutinitas seolah-olah pendidikan yang diperuntukan anggota militer. Dari bangun tidur sampai tidur lagi kegiatan kami diatur dengan sedemikian, sehingga waktu tak terbuang sia-sia.
Upacara Pembukaan Prakondisi ( Sumber : Panitia Prakondisi SM3T UM 2015)
Dua minggu pun berlalu saat pagi itu, masih dihinggapi rasa penasaran dimanakah kami akan ditempat tugaskan. Karena LPTK kampus lain telah mengumumkan sebelum berangkat prakondisi, seperti contohnya LPTK kampus saya, kampus nomor satu di jalan colombo telah mengumumkan penempatan daerah tugas H-1 sebelum pelaksanaan Prakondisi.
Hari terakhir prakondisi ditutup dengan acara outbound. Pada sore harinya kertas pengumuman penempatan lokasi tugas telah tertempel disudut lapangan tenis di area Lanal Malang. Ekspresi wajah yang beraneka macam. Terlihat ada  yang senang, sedikit kecewa, adapula yang datar. Bagi yang ekpresinya senang adalah bagi mereka-mereka yang tempat tugasnya sesuai dengan ekspektasinya, yang kecewa adalah yang tak sesuai ekspektasinya, sedangkan yang datar adalah bagi mereka yang pasrah, tak membeda-bedakan daerah tugas manapun.
Kalau ada judulnya, "Malam Terakhir" dalam kebersamaan sebelum pemberangkatan
Tanggal 18 Agustus dini hari, pemberangkatan kedaerah tugas dimulai. Daerah tugas aceh selatan, kabupaten pidie jaya, kabupaten Simeleu, dan Kabupaten Bintan Riau mendapat jadwal penerbangan pertama meninggalkan Lanal Malang, disusul selanjutnya daerah tugas Kabupaten Sorong Selatan, Kabupaten Pegunungan Bintang, serta Kabupaten Boven Digoel di pulau Papua.
Senja Pertama dalam Perjalanan Banda Aceh menuju ke Aceh Selatan
Kini, sudah sebulan rasanya kami saling tak bersua. Semua telah berada tugas didaerah masing-masing dan saya mendapatkan tugas dikabupaten Aceh Selatan, tepatnya di SMK N 1 Meukek. Sebuah sekolah yang masih tergolong baru dan sedang berkembang. Pengalaman kehidupan baru ini dimulai dari 19 Agustus dimana hari itu kami serombongan tiba di kota Tapaktuan, kota kabupaten Aceh Selatan.
Persiapan upacara serah terima peserta SM3T ke pihak Kabupaten Aceh Selatan 
Selama satu tahun kedepan berada di Aceh Selatan, khusunya Dusun Padang, Desa Lhokaman Kecamatan Meukek akan menjadi persinggahan rumah kedua setelah Jogja. Kota yang sama sama bertitle daerah istimewa. Semoga ditempat ini bukan layaknya dermaga saja, hanya menjadi persinggahan kemudian pergi. Aceh tak sekedar hanya menjadi tempat persinggahan, tetapi juga memberikan pengalaman dan pembelajaran hidup yang istimewa se istimewa title daerahnya.


Copyright © #ndesolicious | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com