“ditepian kota itu (p)enak”

25 May 2018

Mendadak ke Takengon

Mendadak ke Takengon ini merupakan artikel petualangan awal puasa tahun 2016, perjalanan meugang ke Takengon, Aceh Tengah. 
Oiya bagi yang belum tau apa itu meugang bisa kunjungi artikel sebelumnya..
Takengon merupakan dataran tingginya Aceh dengan Aceh Gayo (Gayo Lues) dan terkenal dengan daerah penghasil kopi nomor wahidnya dari Aceh. Meskipun berada didataran tinggi, tetapi di Takengon terdapat danau yang sering disebut danau Lut Tawar, tempat itulah yang akan dikunjungi bersama dengan teman-teman. Jaraknya sekitar 280 kilometer via Nagan Raya melewati Beutong Ateuh yang ditempuh hampir 12 jam. Kami berangkat bersepuluh, sama-sama tidak tahu rute yang akan dilewati. Tahunya cuma denger dari teman guru yang berasal dari Takengon bahwa nanti kalau sudah melewati daerah Nagan Raya akan melewati pegunungan yang panjang tanpa ada pemukiman penduduk dan tanpa ada yang jualan minyak (read: bahan bakar minyak). Saat itu berangkat dari Aceh Selatan sekitar pukul 10 siang, dan sampai di Nagan Raya sekitar pukul 2 siang, dan kami untuk istirahat sholat. Kalau tidak salah kami sampai di Takengon itu sudah pukul 10 malam.
Rutenya mbelah pegunungan di provinsi Aceh
Kondisi jalan berbatu bekas longsoran (Sumber: Foto FB Ninda)
Benar saja, kami melewati jalan pegunungan yang panjang setelah dari Nagan Raya, ada beberapa yang longsor juga. Rute yang kami lewati merupakan jalur alternatif "mbelah gunung" Aceh bagian selatan tenggara dengan Aceh bagian tengah utara, namun hanya beberapa yang lewat, konon rute yang kami lewati tersebut "rawan". Entah berita asli atau tidak, sehari setelah kami sampai di Takengon ketika kami ke pasar untuk mencari kopi sebagai oleh oleh, terdengar kabar bahwa telah terjadi penjambretan sekaligus pembunuhan di daerah pegunungan yang kami lewati. Kabar tersebut yang membuat kami mengurungkan niat untuk melewati rute tersebut saat akan kembali pulang nantinya. Akibatnya kami merubah rute dari Takengon menuju Bireun, Pidie Jaya, Meulaboh, rute yang lebih panjang dibandingkan jika melewati rute melewati Beutong Ateuh.
Mungkin ini salah satu perjalan dengan manajemen buruk dari penentuan tempat yang akan dikunjungi dan pengelolaan waktu. Ya karena memang belum matang juga persiapannya, sebenernya pengen ke Nias melihat lompat batu kayak di uang seribuan, tetapi karena badai, semua perjalanan laut menuju ke pulau nias menjadi tak tentu.
Landscape danau Lut Air Tawar Takengon
Ketika telah berada di Takengon, pagi harinya kami menuju ke danau Lut Tawar, sampai setengah hari disana, baru mau pindah lokasi ke spot lainnya,.. lah dalah turun hujan, akhirnya kami memutuskan untuk menyudahi perjalanan di Takengon dan kembali ke penginapan.
Bersepuluh menuju Takengon
Lengkap, selamat datang di danau Lut Air Tawar Takengon
Dihari berikutnya, kami melanjutkan ke pasar untuk mencari kopi, dan siangnya kami harus meninggalkan Takengon untuk kembali pulang karena sekolah telah menanti hehe.
Salah satu gerosir warung kopi di pasar Takengon
Motor sebagus inipun dijadikan becak motor
Menemukan toko cat yang juga menjual kaset pita, aneh ya hehe
Koleksi kaset pita yang masih bersegel baru dengan harga yang masih sama dengan labelnya
Oiya pada waktu sampai takengon sehari sebelum masuk bulan puasa, maka malamnya kami melaksanakan tarawih di Masjid Raya Takengon.
Ngisi buku agenda ramadhan, Bapak-bapak itu Bupati Takengon lho
Dibarengi hujan, siang harinya kami bergegas menuju pidie jaya, kebetulan ada teman sesama SM3T yang bertugas di Pidie Jaya. Ketika dalam perjanalan pun sempat terjadi problem pada motor yang saya naiki. Karena kunci motor dengan rumah kuncinya sudah longgar, ketika melewati jalanan rusak kuncinya jatuh. Dan itu baru sadar setelah kurang lebih jaraknya 10 kilo. Tak mungkin untuk putar balik hanya demi mencari kunci motor yang jatuh. Mencari solusi, membobol kabel di rumah kunci dan membobol rumah kunci di jok untuk mengisi bensin, lagi-lagi apes hehe.. Sesampainya di Pidie Jaya saat itu sudah memasuki adzan maghrib, pas buka puasa. Akhirnya kami bermalam di Pidie Jaya dan keesokan harinya melanjutkan perjalanan menuju ke Meulaboh.
Di kick starter pun nggak nyala, lah bensin habis (Sumber: Foto FB Ninda)
Keapesan berikutnya adalah ketika dalam perjalanan dari Pidie Jaya menuju Meulaboh. Perjalanan yang panjang dan tidak mengetahui rute, saat sampai di jalan tengah hutan, satu persatu motor kehabisan bensin, solusi awalnya kami menyedot dan memindahkan bensin ke motor lainnya. Pikir kami ditengah hutan tidak akan lama, tetapi nyatanya kami menghabiskan waktu kurang lebih 4-5 jam berkutat melewati hutan untuk sampai ke Meulaboh.
Motor matic yang mengharuskan menyedot langsung  dari tank (Sumber: Foto FB Ninda)
Saat tragedi kehabisan bensin itu sekitar jam 4.30 sore, akhirnya kami mengambil keputusan 4 motor disedot habis bensinnya untuk dimasukan ke 1 motor yang akan turun untuk mencari bensin. Saat itu Eko dan Alfian lah yang turun untuk mencari bekal bensin. Sisanya kami memilih duduk di pinggiran jalan sembari membuat tulisan "tolong kami kehabisan minyak", tetapi apes juga tidak ada yang membantu, hanya beberapa mobil yang lewat kala itu. Bisa dibayangkan jika kami tidak mendapatkan minyak, kami akan bermalam di hutan yang tidak tau gimana keadaannya karena baru jam 4.30 saja suasana sudah mencekam dengan suara-suara aneh.
Sembari menunggu datang bensin, bermain kartu adalah bukan salah satu solusi
Keapesan telah terlewati, kami sampai di Meulaboh sekitar jam 7 malam, kami rehat untuk buka puasa dan sholat terlebih dahulu sembari memutuskan untuk apakah terus atau harus cari penginapan lagi. Kami yang cowok-cowok sebenernya berani pulang langsung tanpa bermalam di penginapan Meulaboh, tetapi dari pihak cewek memilih menginap. Maklum jarak Meulaboh ke Aceh Selatan masih sekitar 3-4 jam. Setelah keputusan itu, kami seolah sedang dalam perang dingin kubu cewek dan cowok. Setelah malam itu mendapatkan penginapan kami segera beristirahat dan kembali pulang di pagi harinya.
Ya begitulah touring yang bisa dikatakan gagal karena manajeman yang kurang pas dan dadakan, beda ketika saya touring berdua ke Banda Aceh dan Sabang kala itu.
Terimakasih yang sudah sempat berkunjung dan telah membaca hehe..
Location: Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, Indonesia

0 comments:

Post a Comment

Copyright © #ndesolicious | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com